Posts

The Diary of a Chosen Principal: Why am I?

Why am I? Setahun berlalu, aku masih sering bertanya-tanya kenapa aku yang dipilih jadi kepala sekolah. Apalagi setelah menerima evaluasi dari para guru. Sebagian besar isinya menyinggung kompetensi, caraku berkomunikasi dan berelasi dengan rekan kerja, yang memang perlu terus banyak belajar.  Namun, belakangan aku justru menemukan bahwa kelemahan-kelemahanku merupakan salah satu alasan kuat mengapa Tuhan memilihku.  Dia tidak memilih orang yang hebat, supaya tetap Dia yang terhebat, bukan kepala sekolahnya, bukan aku.  1 Korintus 1:25 (TB)  Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari pada manusia. Sekalipun ada orang yang anggap aku kurang berkompeten, apalagi bukan S1 PGPAUD, Firman Tuhan bilang bahwa yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya. Justru dalam kelemahan-kelemahanku kuasa Tuhan jadi sempurna.  Tuhan tidak ingin aku bergantung pada manusia, melainkan bergantung pada kekuatan Allah....

When God Shapes a Leader: A Principal's First Year

It's only by His grace and by His grace alone that this first year is finished. Tahun pertama ini bukan tentang bagaimana aku menjalankan sebuah sekolah, melainkan tentang Tuhan yang membentuk seorang pemimpin. Awalnya aku bersemangat untuk membuat perubahan. Aku ingin membenahi dan membuat segala sesuatu jadi lebih benar. Namun, sepertinya agak berlebihan. Aku lupa bahwa tahun pertama harusnya lebih banyak observasi, melihat, mengenal, dan mempelajari peran dan posisi. Tahun pertama juga tahun penting untuk bangun relasi dan trust. Bukan untuk mengoreksi dan membenahi secara cepat. Langkah perubahan dan inovasi bisa menunggu. Tidak harus buru-buru dilakukan pada tahun pertama. Memimpin manusia tidak pernah mudah. Ritmenya berbeda-beda untuk setiap orang bisa bertumbuh selaras dengan visi misi sekolah. Aku belajar bahwa kepemimpinan bukan tentang mengendalikan perubahan, melainkan setia menabur dan menunggu. Pertumbuhan butuh waktu. Dari seluruh perjalanan aku sebagai pendidik, tah...

The Diary of A Chosen Principal: Yesus Menyembuhkan Novi

Bagaimana jika ternyata kisah Yesus menyembuhkan Bartimeus dalam Markus 10:46-52 adalah juga kisah Yesus menyembuhkanku? Orang Farisi datang ingin menjebak Yesus (Markus 10:2). Orang kaya ingin hidup kekal dengan harga murah (Markus 10:17) .  Yakobus dan Yohanes ingin menjadi orang top di Kerajaan Yesus (Markus 10:35-35). Bartimeus hanya ingin melihat. Karena dia buta. Namun, sesungguhnya semua orang mengalami kebutaan rohani. Spiritual blindness. Including me.  Sepertinya selama ini aku tidak sadar, kalau aku buta. Aku tidak bisa melihat bahwa Yesus lebih berharga. Kalau Yesus tidak menjadi yang paling berharga, maka segala sesuatu menjadi tidak berharga.  Aku bukan orang yang sempurna ketika dipanggil Tuhan untuk hidup bagiNya. Bukan orang paling berkompeten untuk jadi kepala sekolah. Bahkan buta, tidak mampu melihat Yesus dengan jelas di tengah-tengah gejolak kehidupan.  Markus 10:49 (TB) Lalu Yesus berhenti dan berkata: "Panggillah dia!" Mereka memanggil orang b...

The Diary of a Chosen Principal: Defined by His Grace

Begitu terpilih menjadi kepala sekolah baru, aku kembali mengalami krisis jati diri. Aku berulang kali bertanya pada diri sendiri: sebenarnya aku ini siapa? Aku orang seperti apa? Mengapa aku? Bagaimana mungkin aku bisa? Pertanyaan-pertanyaan itu berulang tanpa henti di kepalaku, dalam percakapan dengan suami, dan dalam sesi-sesi konseling. Aku mulai melakukan semacam background check terhadap diriku sendiri. Aku menimbang ulang perjalanan hidupku, kemampuanku, kepribadianku. Aku mempertanyakan panggilan ini. Aku mempertanyakan pengurapan ini. Aku mempertanyakan keputusan yayasan. Dan, dengan jujur, aku juga mempertanyakan Tuhan. Bukan karena aku tidak percaya, tetapi karena aku ingin mengerti: Apa yang Tuhan lihat dalam diriku, yang sering kali bahkan tidak kulihat sendiri? Aku ingat pernah meminta izin untuk melihat hasil psikotestku. Aku ingin tahu: sebenarnya siapa diriku? Apa yang membuatku terpilih? Di sana tertulis dengan jelas bahwa aku direkomendasikan untuk menjadi ke...

The Diary of a Chosen Principal: Unchanging God in a Changing Life

Beberapa kali aku tanya ke diri sendiri, "Ini beneran aku jadi kepsek?" Jangankan orang lain, aku sendiri kaget. Kaget yang cukup berkepanjangan. Tiba-tiba hampir seluruh aspek hidupku berubah. Kebiasaan-kebiasaanku berubah di sekolah. Mau ga mau. Suka tidak suka. Aku ga lagi mengajar secara rutin. Ga lagi punya kelas khusus. Aku ga lagi mengerjakan pekerjaanku yang biasa. "Sekarang sering telat makan siang ya, Miss," komentar ibu kantin. Beberapa kali beliau sudah hampir pulang ketika aku justru baru tiba di sana. Jam makan siang tidak lagi sama seperti dulu. Dulu aku datang pada jam yang sama, bersama beberapa rekan guru. Sekarang aku ke kantin pada jam hampir tutup, sering sendiri. Dulu rasanya aku punya waktu lebih panjang untuk duduk di depan laptop dan menyelesaikan pekerjaanku. Sekarang? Waktu rasanya berjalan terlalu cepat untuk aku yang masih pelan-pelan menerima kenyataan dan sedang beradaptasi. Ada beberapa hal yang baru. Ada beberapa hal yang bikin aku p...

The Diary of a Chosen Principal: The Gift of Tears

Disclaimer: tulisan ini adalah late publish dan ditulis sebulan sebelum masa jabatan menjadi kepsek. Aku tulis setelah dapat saran dari suami. Katanya supaya aku gak galau lagi.  Ini adalah tulisan keempat. Tulisan pertama bisa dibaca  di sini . Tulisan kedua bisa dibaca  di sini . Tulisan ketiga bisa dibaca di sini . Tulisan ini aku set untuk published automatically on Friday, July 4th , 2025, tepat pada hari keempat aku secara resmi menjabat sebagai kepsek. "Don't cry," people often told me. "Ojok nangis, Miss." Especially now, as a principal, I felt an even stronger need to hold back. I must not cry. Bisa menangis lepas dan lama itu suatu privilege . Kadang aku rindu jadi anak kecil yang bisa nangis sepuasnya, setelah itu lupa sama sekali. Masalah beres begitu saja hanya dengan satu pelukan. Selesai. Tapi sekarang untuk menangis aja sudah tidak semudah itu. Somehow, it feels forbidden . Masih bisa diterima kalau hanya setetes air mata, tanpa isakan. Dalam wa...

The Diary of a Chosen Principal: Laughing at the Days to Come

Disclaimer: tulisan ini adalah late publish dan ditulis sebulan sebelum masa jabatan menjadi kepsek. Aku tulis setelah dapat saran dari suami. Katanya supaya aku gak galau lagi.  Ini adalah tulisan ketiga. Tulisan pertama bisa dibaca  di sini . Tulisan kedua bisa dibaca di sini . Tulisan ini aku set untuk published automatically on Thursday, July 3rd, 2025, tepat pada hari ketiga aku secara resmi menjabat sebagai kepsek. "Kenapa, Miss? Kok ngelamun?" tanya seorang rekan kerja. Wah, ketahuan sedang galau! "It is seen on your face," ujar seorang rekan yang lain. "Tapi ya karena saya sudah tahu duluan, Miss. Kalau ga ya ga akan tahu." Siapa yang ga galau sih tiba-tiba jadi kepsek? Ya memang ga tiba-tiba juga sebenernya. Dibilang kaget ya ga juga, dibilang ga kaget ya tetep aja shock. 🤯 Selain melamun, aku juga gelisah dan kesulitan tidur. Udah ngantuk juga tetep susah tidur. Sudah tidur pun bisa terbangun. Suamiku juga bilang aku sampai mengigau. Ada kegenta...

The Diary of a Chosen Principal: When God Winks

Image
  Disclaimer: tulisan ini adalah late publish dan ditulis sebulan sebelum masa jabatan menjadi kepsek. Aku tulis setelah dapat saran dari suami. Katanya supaya aku gak galau lagi.  Ini adalah tulisan kedua. Tulisan pertama bisa dibaca di sini .  Tulisan ini aku set untuk published automatically on Wednesday, July 2nd, 2025, tepat pada hari kedua aku secara resmi menjabat sebagai kepsek. "Kenapa kamu mau jadi kepsek?" tanya seorang rekan sepelayanan di gereja, beberapa waktu setelah aku minta dukungan teman-teman satu KTB untuk doakan proses psikotes dan interview yang harus aku jalani untuk pencalonan kepala sekolah. Aku menggeleng dan bilang, "Bukan aku yang mau." Karena memang demikian. It's not my will. It's His will that revealed through the leaders at our school. Inilah saatnya untuk ganti kepsek, untuk buat perubahan. Seseorang memang pernah bertanya beberapa tahun lalu, "Bagaimana kalau suatu hari nanti jadi kepsek?" Aku cuma ketawa aja. Aku...

The Diary of a Chosen Principal: Chosen by God

Image
Disclaimer: tulisan ini adalah late publish dan ditulis sebulan sebelum masa jabatan menjadi kepsek, setelah beberapa hari galau. Aku tulis setelah dapat saran dari suami. Katanya supaya aku gak galau lagi. Tulisan ini aku set untuk published automatically on Tuesday, July 1st, 2025, tepat pada hari pertama aku secara resmi menjabat sebagai kepsek. At the beginning of 2025, God revealed His plan to me. I wrote it in my WhatsApp Bible Reading Group and shared it like this: 4 Januari 2025 Keluaran 4:1, 10, 13 (TB)  Lalu sahut Musa: "Bagaimana jika mereka tidak percaya kepadaku dan tidak mendengarkan perkataanku, melainkan berkata: TUHAN tidak menampakkan diri kepadamu?"  Lalu kata Musa kepada TUHAN: "Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulu pun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mu pun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah." Tetapi Musa berkata: "Ah, Tuhan, utuslah kiranya siapa saja yang patut Kauutus."  Sampai 3x Musa tuh beralasan ...

Surat Untuk Papa: Kisah Kesetiaan Tuhan Selama Tujuh Tahun Setelah Papa Tiada

Dear Papa, Sudah lebih dari 7 tahun, bahkan hampir 8 tahun Papa pulang ke rumah Bapa di surga. Ada begitu banyak hal yang terjadi sejak Papa tiada. Kami sedih dan kehilangan. Kami kesulitan dan kekurangan. Namun kami tidak pernah ditinggalkan. Tuhan, Allah Immanuel, menyertai kami.

Paskah di Tengah Pandemi Covid-19

Paskah dirayakan setiap tahun. Namun setiap tahunnya berbeda. Tanggalnya tak pernah sama, situasinya pun demikian. Masih jelas dalam ingatan saya Paskah 2 tahun silam, tepat 1 April 2018. Hari Paskah bertepatan dengan April Mop. Seakan Tuhan ingin menunjukkan di tengah-tengah kebohongan dan hoaks yang marak saat itu, bahwa kebangkitan-Nya sungguh benar terjadi. Bukan isapan jempol belaka. Tahun ini, tepat 12 April 2020, dunia sedang mengalami pergolakan besar akibat dari pandemi Covid-19. Sudah berminggu-minggu kita menjalani ibadah secara online , di rumah saja. Untuk pertama kalinya bagi kita, secara serentak semua umat Kristen di seluruh dunia merayakan Jumat Agung dan Paskah di rumah.

Sebelum Memberi Pinjaman Hutang, Pertimbangkan Dulu 5 Hal Ini

Image
Memberi pinjaman di bawah Rp 50.000 ketika sedang hang out bersama teman merupakan hal yang sepele. Duit nggak dibalikin juga nggak masalah. Namun kalau teman sudah pinjam uang senilai lebih dari ratusan ribu, siapa yang tidak kuatir uang tersebut tidak kembali? I do think that God wants us to lend some money to help others wisely . Kalau kita teliti, hal pinjam meminjamkan uang ini juga Tuhan atur dalam Firman-Nya. Dia tahu betapa urusan duit adalah hal yang sangat sensitif, sangat berpengaruh dalam kehidupan umat-Nya.

Segera Menikah, Perlukah Saya Membeli Lingerie?

Walaupun tidak ada dalam list, persiapan pernikahan mestinya juga menyangkut persiapan untuk hubungan intim antara suami isteri. Walaupun tidak dibicarakan, a bride to be must be thinking about this.

Ketika Saya Lupa, Orang Asing Ini Malah Ingat Untuk Melakukan Kebaikan

Hari ini Mama mertua saya ultah. Dan saya lupa! Nikah aja belum, saya sudah lupa hari ultahnya! Menantu macam apa, coba? Malah Mama saya yang sudah lansia itu ingat ultah besannya! "Ce, mertua lu ultah bulan Mei kan ya?" Begitu bunyi chat-nya via Whatsapp. Saat melirik jam, sudah jam 3 sore. Waduh! Cepat-cepat saya chat Mama mertua via WA. "Selamat ulang tahun ya, Ma." Mama mertua mengucapkan terima kasih dan bertanya kapan saya pulang ke Surabaya. Pulang kerja, saya agak lembur, lalu harus ke gereja untuk latihan pelayanan ibadah hari Minggu. Sambil menunggu teman-teman sepelayanan ngumpul semua, saya buka Instagram. Sudah telat, pikir saya. Kalau mau kirim makanan mestinya minimal H-1. Tiba-tiba saya teringat Montana Ice Cream, langganan keluarga calon suami yang memang dekat rumah. Biasanya es krim mereka memang ready stock. Saya cari IG-nya dan menghubungi kontak WA yang tertera...