Posts

Showing posts with the label Father's daughter

The Diary of a Chosen Principal: The Gift of Tears

Disclaimer: tulisan ini adalah late publish dan ditulis sebulan sebelum masa jabatan menjadi kepsek. Aku tulis setelah dapat saran dari suami. Katanya supaya aku gak galau lagi.  Ini adalah tulisan keempat. Tulisan pertama bisa dibaca  di sini . Tulisan kedua bisa dibaca  di sini . Tulisan ketiga bisa dibaca di sini . Tulisan ini aku set untuk published automatically on Friday, July 4th , 2025, tepat pada hari keempat aku secara resmi menjabat sebagai kepsek. "Don't cry," people often told me. "Ojok nangis, Miss." Especially now, as a principal, I felt an even stronger need to hold back. I must not cry. Bisa menangis lepas dan lama itu suatu privilege . Kadang aku rindu jadi anak kecil yang bisa nangis sepuasnya, setelah itu lupa sama sekali. Masalah beres begitu saja hanya dengan satu pelukan. Selesai. Tapi sekarang untuk menangis aja sudah tidak semudah itu. Somehow, it feels forbidden . Masih bisa diterima kalau hanya setetes air mata, tanpa isakan. Dalam wa...

Ketika Saya Lupa, Orang Asing Ini Malah Ingat Untuk Melakukan Kebaikan

Hari ini Mama mertua saya ultah. Dan saya lupa! Nikah aja belum, saya sudah lupa hari ultahnya! Menantu macam apa, coba? Malah Mama saya yang sudah lansia itu ingat ultah besannya! "Ce, mertua lu ultah bulan Mei kan ya?" Begitu bunyi chat-nya via Whatsapp. Saat melirik jam, sudah jam 3 sore. Waduh! Cepat-cepat saya chat Mama mertua via WA. "Selamat ulang tahun ya, Ma." Mama mertua mengucapkan terima kasih dan bertanya kapan saya pulang ke Surabaya. Pulang kerja, saya agak lembur, lalu harus ke gereja untuk latihan pelayanan ibadah hari Minggu. Sambil menunggu teman-teman sepelayanan ngumpul semua, saya buka Instagram. Sudah telat, pikir saya. Kalau mau kirim makanan mestinya minimal H-1. Tiba-tiba saya teringat Montana Ice Cream, langganan keluarga calon suami yang memang dekat rumah. Biasanya es krim mereka memang ready stock. Saya cari IG-nya dan menghubungi kontak WA yang tertera...

“Mama Papa, Kenalkan Ini Pasanganku” – Menghormati Orangtua Dalam Pacaran Kristen

“Kita mampir sebentar ke rumahku ya”, sang calon pacar ngomong sambil belok ke sebuah perumahan di Surabaya Timur, ternyata menyembunyikan kejutan kalau saya akan dikenalkan ke anggota keluarganya!! Singkat cerita, sore itu saya langsung dikenalkan ke Mama dan adik dari sang calon pacar yang memang sedang ada di rumah. Sempat ngobrol sebentar sambil menunggu dia mengambil barang di kamarnya. Dalam hitungan menit, mini drama diakhiri dengan pamitan dan kami lanjut pergi jalan-jalan lagi…. Pertemuan itu singkat dan kelihatannya hanya sekedar ‘mampir’. Namun ternyata, belakangan ketika sudah jadi pacar, dia mengatakan kalau peristiwa itu sudah direncanakan. Supaya tidak terkesan kaku dan formal, dia mengajak ‘mampir’… jadi saya bisa santai dan bersikap apa adanya. Tidak perlu grogi atau sungkan karena mau ketemu “camer”. Wah….I really don’t know what to say…. Read more

Ujian Kasih dalam Mengatur Keuangan

Setahun lebih telah berlalu sejak adik dan saya sepakat untuk membayarkan premi asuransi Mama setiap bulan. Saya sempat kisahkan di sini bagaimana kami mengambil langkah iman dan menyaksikan berkat pemeliharaan Tuhan pada bulan-bulan awal tahun 2017 lalu. Tidak lama setelah saya memposting kisah ini, saya mendapatkan tantangan yang lebih besar dalam keuangan. Selama hampir 4 tahun bekerja di Palembang, saya beroleh kesempatan untuk tinggal di mess guru dengan biaya yang sangat terjangkau. Namun bulan Mei tahun lalu mau tidak mau saya harus pindah tempat tinggal. Kos-kosan di sekitar tempat saya bekerja tarifnya 3 kali lipat dari yang biasa saya bayarkan untuk biaya bulanan di mess guru. Selain itu, kamarnya pun lebih kecil dan sempit. Kalau di mess guru dulu saya bisa tidur sekamar berdua dengan seorang rekan, di kamar kos kayaknya tidak mungkin. Pada saat-saat seperti itu, sejujurnya saya mulai punya pikiran jelek. Seandainya.... seandainya saya nggak perlu bayar premi asurans...

My Mom's Dream and Mine

Beberapa waktu lalu aku sempat menuliskan kisah tentang pergumulanku mempersiapkan acara pertunangan. Sebenarnya persiapannya cukup simple, karena acara kami sederhana. Namun yang membuat saya bergumul setengah mati adalah karena Mama punya keinginan yang kuat, dan saya mati-matian menolaknya. Silakan  klik di sini  untuk baca keseluruhan kisahnya ya. Saya rasa pada umumnya banyak kok yang mengalami hal seperti ini. Di satu sisi ada impian dan keinginan pribadi yang ingin diwujudkan di hari bahagia, di sisi lain ada kehendak orang tua yang sepertinya mau nggak mau harus diikuti. However, I am so thankful to experience this. Bisa berdebat dengan Mama juga merupakan suatu berkat tersendiri. Itu membuktikan kedekatan kami juga, sehingga kami berdua bebas menyatakan pendapat dan perasaan masing-masing. Moreover, what was happened does not set us apart. Instead, we get closer as a mother and a daughter. Bukan karena saya cukup dewasa, melainkan karena kasih setia Tuhan dalam ...

Because He lives... I will keep on writing!

One of my favorite's homework during the school-years was writing. As for me, writing is easy. It is as easy as talk directly to someone. However, I could not deny the fact that the ability to write is a gift from the Lord. It might be easy for me, but not for others. All of us receive different gifts and talents from the Lord, according to His plan and calling in our lives.

Kamu telah melakukannya juga untuk Aku

Pertolongan Tuhan memang tidak pernah terduga. Cara-Nya selalu ajaib. Bulan Juli lalu saya merasakan pertolongan-Nya melalui orang-orang asing, yang bahkan tidak saya kenal sama sekali. Sepintas kalau diingat bagaimana kami bertemu, orang akan bilang bahwa itu hanya kebetulan. Tapi saya percaya tidak ada yang kebetulan. Tuhan benar-benar bekerja di dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi orang-orang yang mengasihi Dia. Sekalipun kasih saya kepada Tuhan begitu sederhana dan dangkal, sejauh langit dari bumi demikianlah kasih Tuhan.

Three Years Later

If my life is a movie or drama, perhaps it should be written "three years later" after the scene of my dad's funeral. However, what happened during these past three years are too meaningful to be skipped. We have been struggling, praying, working, crying, hoping... and The Lord never leaves us on our own. He was, is and will always be with us. About a week ago, our family thanked The Lord that finally my brother has done his thesis. He was able to be accountable for his final project, even now is working on the revision and prepare for an exhibition. He said that not everyone is asked to do the exhibition. It's only for those who have done very well. Somehow he is sure that he might got an A. Well, praise The Lord! :) If things go as planned and The Lord makes everything go smoothly, my brother will have his graduation ceremony this August and soon will get his first job as an IT engineer. As for me, I also never imagined that The Lord wants to entrust me more respo...

Segala Sesuatu Ada di Bawah Kuasa Tuhan

Pagi ini saya membaca kisah Daud dalam 1 Samuel 29-30. Sekalipun Saul sudah berjanji tidak akan memburunya lagi, Daud tetap berpikir bahwa suatu hari nanti Saul akan membinasakannya. Jadi Daud pergi ke negeri orang Filistin dan tinggal bersama Akhis, raja Gat. Suatu hari Daud dan pasukannya pergi bersama-sama dengan tentara orang Filistin untuk melawan bangsa Israel. Namun panglima Filistin menolaknya. Ketika Daud dan pasukannya pulang, mereka mendapati bahwa tempat tinggal mereka, Ziklag, terbakar. Bahkan semua perempuan dan orang-orang yang di sana telah ditawan mereka, dengan tidak membunuh seorang pun (1 Samuel 30:2). Saat saya membaca bagian itu, saya merasa seakan-akan Roh Kudus memberikan highlight pada kalimat terakhir itu. Sekalipun sebuah penawanan terjadi, tak satu nyawa pun tercabut. Mengherankan. Seakan Tuhan hendak menunjukkan bahwa Ia yang empunya kehidupan, Dialah yang melindungi hidup setiap orang. Singkat cerita, Daud pergi bersama pasukannya mengejar orang-orang A...

Why are you downcast, O my soul?

Yesterday I helped my roommate to pack up her things. She moved out for a happiness. Tomorrow will be her wedding day! I had been excited until she left. I looked around my room and felt loss. For the second time in my life, on the same date, April 28, I have to let someone go. On April 28, three years ago, I lost my dad but life must go on. I missed him and I miss him. But what could I do?  On July 2013, I moved to Palembang and started to have a new roommate. We were not close at the beginning, but as the days went by, we got closer and became best friend. I was blessed to have her by my side. However, I could not have her as my roommate for forever, right? Now she is tying the knot. Time flies really fast. People walk in and out in our lives. I wonder when will I lose someone again. Soon or later, no one will stay forever by my side. But The Lord was, is, and will always be with me. When I moved out from my house to go to college, He was with me. When I went to othe...

Tetapi TUHAN Menyertai

Hidup itu seperti uap, yang sebentar ada, kemudian tiada. Tepat sekali apa yang Firman Tuhan gambarkan mengenai hidup manusia yang singkat. Beberapa minggu yang lalu, Mama mengirim BBM, mengabarkan bahwa Tante saya, kakak yang tertua dari almarhum Papa saya sudah berpulang dini hari tadi. Saya sempat menjenguknya saat liburan Natal lalu. Sekalipun duduk di kursi roda, ia cukup sehat. Tapi kini sudah tiada, menyusul kepergian adiknya, Papa saya. Rasanya baru kemarin Papa meninggalkan kami. Sekarang menyusul saudaranya. Saya menahan napas sesaat setelah membaca BBM Mama dan terpikir, "Saya harus siap mengalami kehilangan demi kehilangan."

I Wish I Could..

"I wish I could play in the playground..." Saya mendongak ketika seorang gadis kecil, salah seorang siswa saya yang paling pendiam, mengatakan kalimat tersebut. Sudah sebulan lebih, sekitar 5 minggu ini saya tidak mengajak anak-anak bermain di luar karena tebalnya asap di kota Palembang. Saya melihat keluar jendela sekilas sebelum menyahut, "Me too." Tahun ini intensitas asap memang jauh lebih tebal. Sudah termasuk kategori yang sangat berbahaya. Batas normal konsentrasi partikular (PM10) adalah 150 ugram/m3. Sementara siang tadi peningkatannya sudah mendekati angka 800. Menggelisahkan. Sudah hampir 6 minggu ini saya sakit batuk-batuk juga, sampai sesak napas, bahkan nyeri dada. Amandel meradang, bahkan masih tetap bengkak walaupun sudah tidak sakit lagi. Antibiotik, obat batuk, jeruk nipis, madu, sampai kumur-kumur air garam juga tidak mempan. "Nggak papa," kata dokter. "Cuma alergi asap. Nanti kalau obat sudah habis masih belum sembuh, balik lagi...

Outfit Of The Day

Image
Sebagai perempuan muda yang normal, seringkali saya merasa tidak punya baju, sekalipun saya tahu ada banyak orang di luar sana yang bajunya cuma sepotong dua potong. Berulang kali saya kuatir, mau pake baju apa ya? Kok kayaknya koleksi saya kurang fabulous, kurang fashionable. Tapi nggak mungkin juga saya shopping baju tiap bulan. Banyak kebutuhan lain yang jauh lebih penting daripada baju. Sadar tidak sadar, rasanya baju yang saya kenakan menentukan apakah saya tampil cantik atau tidak. Lalu saya menjadi kuatir kalau baju saya biasa-biasa, modelnya bukan yang lagi booming. Kan kelihatannya gimana gitu. Apalagi saya ini guru. Mesti tampil cantik dong di depan ortu murid. Jauh sebelum saya atau perempuan-perempuan lain kuatir akan apa yang akan kita kenakan, Tuhan Yesus sudah ngomong duluan. Dia sudah bahas isu ini.  Matius 6:28-30 (TB)  Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian ? Perhatikanlah bunga bakung di ladang , yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memin...

How Faithful is our Lord!

Time keeps going. Two years has passed since I lost my dad and I feel thankful today. I woke up quite early this morning and had more time to pray and lift up praises. These twenty four past months, The Lord has been so faithful. I tried to count on The Lord's blessings, guidance, provisions, and answers along these two years. There were soooooooo much from the Lord that if I could give thanks for each matter, I would be late to work today. Hehehe...

His love endures forever

1 Chronicles 16:34 "Give thanks to the LORD for He is good; His love endures forever" I never had an idea of how His love endures, until today. My love to Bennett (one of my students) cannot endures all the pains he caused every time he punched me. For every discipline word I said, he punched me. I was about to give up, but God reminded me of His love. His love endures forever to those who keeps sinning and punching his heart! Could you imagine how great is His unfailing love? :')

God Lists My Tears [In Memoriam of My Father: April 28, 2013 - April 28, 2014]

I thought these twelve months were enough to accept this lost. Although there was almost no tears for these last few months, I found myself was in a deep sorrow when the date turned to be April 28. So it was and is still hurt for me to lost my dad. Even I found myself could not stop to cry. Nothing and no one could help, just like in the song that the people sang a year ago to comfort us: Tak satupun dapat menghiburku Tak seorangpun dapat menolongku Hanya Yesus jawaban hidupku (No one could comfort me No one could help me Only Jesus, the answer of my life)

God loves a cheerful giver

Image
Memasuki tanggal tua, rasanya pengeluaran harus diirit-irit, bahkan buat diri sendiri harus agak pelit. Hehehe... Sekarang setelah bekerja, aku jadi merasakan betapa tidak mudah untuk hidup mencukupkan diri dengan apa yang aku punya. Malah seringkali sudah dihemat sebaik mungkin, tetap rasanya kurang. Keluhan ini masih bisa diperpanjang dengan fakta bahwa sekarang Papa sudah meninggal, Titi masih kuliah, Mama tidak bekerja. Jadi rasanya wajar kalau aku jadi begitu pelit misalnya. Wajar kalau aku bahkan tidak berpikir sedikitpun untuk peduli pada orang-orang lain yang lebih miskin dan membutuhkan. Diri sendiri butuh kok. Keluargaku juga sangat butuh. Masa depanku juga jelas butuh biaya.

Dear Lord, Near Lord

My K3 students have been leading prayers independently this semester. We usually start our prayers by saying, "Dear Lord....". But one of my students is different. Every time he leads the class in prayer, I always hear him says, "Near Lord....". I don't know which one is mistaken: the teacher or the student. But I felt the time was stopped for a while when my ears caught those phrase. "Near Lord...." My student's misspelling or my mishearing (I don't know) has strongly reminds me that to pray is to get closer to the Lord. It was and is like a dew in the midst of a desert. These past two months, I don't really feel close to the Lord. Somehow, he seems too far. Especially when a lot of jobs are waiting and my life struggles are getting bigger. Now I feel amazed, knowing that the Lord spoke to me directly and clearly through my student's misspelling (or maybe it just my mishearing?). The Lord is never far away from me. He is near...

Thanksgiving Thursday: I am thankful for....

Here is my list of what I am thankful for, especially for this past year (December 2012-November 2013). So, I am thankful for.... Although finance has been my life issue, I know that I do not need to worry anymore about tomorrow for I know whom I have believed is faithful in providing my needs according to His richness in Christ Jesus. I become a greater sinner this year but God has His own purpose in my life, through my life, for the glory of Christ. Jesus Christ came to earth so that a sinner like me could be restored in a relationship with God of the universe. The reconciliation He brought has opened many chances for us to worship the King of kings. The Lord teaches me to start well, be faithful during the progress, and finishing well. Although there are hardships for me in this year, the Lord asks me to enjoy life and see good days. And I am thankful for a grateful heart to enjoy my life and see good days in the midst of sorrow. Being free from a bondage of sin in an unhea...

Suddenly Fatherless [Part 8]: When I could not say 'Happy Birthday, Papa'

Papa, Cece bersyukur Pa, ada 22,5 tahun bisa mengenal Papa. Lebih dari dua puluh tahun merasakan kasih seorang Papa adalah berkat dari Tuhan.  Seharusnya tadi pagi Cece telepon dan bilang, "Happy Birthday, Papa! Cece sayang Papa! Panjang umur ya. Tuhan berkati." Tapi itu tidak terjadi.  Seharusnya hari ini Papa merayakan ultah Papa yang ke-59 dengan suatu ucapan syukur, tapi itu tidak terjadi. Sekarang sudah hampir 7 bulan berlalu tanpa Papa. Hidup tidak pernah sama lagi tanpa Papa. Tahun lalu, saat Cece kangen Papa, kita bisa teleponan, ngomong-ngomong via skype..... Lalu di bulan Desember, Cece melihat Papa menjemput di bandara Juanda.... Tapi tahun ini berbeda. Suka tidak suka, hari-hari tanpa Papa menjadi bulan-bulan tanpa Papa.... Bulan-bulan tanpa Papa akan menjadi tahun-tahun tanpa Papa....