Posts

Showing posts with the label Family

Surat Untuk Papa: Kisah Kesetiaan Tuhan Selama Tujuh Tahun Setelah Papa Tiada

Dear Papa, Sudah lebih dari 7 tahun, bahkan hampir 8 tahun Papa pulang ke rumah Bapa di surga. Ada begitu banyak hal yang terjadi sejak Papa tiada. Kami sedih dan kehilangan. Kami kesulitan dan kekurangan. Namun kami tidak pernah ditinggalkan. Tuhan, Allah Immanuel, menyertai kami.

Ketika Saya Lupa, Orang Asing Ini Malah Ingat Untuk Melakukan Kebaikan

Hari ini Mama mertua saya ultah. Dan saya lupa! Nikah aja belum, saya sudah lupa hari ultahnya! Menantu macam apa, coba? Malah Mama saya yang sudah lansia itu ingat ultah besannya! "Ce, mertua lu ultah bulan Mei kan ya?" Begitu bunyi chat-nya via Whatsapp. Saat melirik jam, sudah jam 3 sore. Waduh! Cepat-cepat saya chat Mama mertua via WA. "Selamat ulang tahun ya, Ma." Mama mertua mengucapkan terima kasih dan bertanya kapan saya pulang ke Surabaya. Pulang kerja, saya agak lembur, lalu harus ke gereja untuk latihan pelayanan ibadah hari Minggu. Sambil menunggu teman-teman sepelayanan ngumpul semua, saya buka Instagram. Sudah telat, pikir saya. Kalau mau kirim makanan mestinya minimal H-1. Tiba-tiba saya teringat Montana Ice Cream, langganan keluarga calon suami yang memang dekat rumah. Biasanya es krim mereka memang ready stock. Saya cari IG-nya dan menghubungi kontak WA yang tertera...

Three Years Later

If my life is a movie or drama, perhaps it should be written "three years later" after the scene of my dad's funeral. However, what happened during these past three years are too meaningful to be skipped. We have been struggling, praying, working, crying, hoping... and The Lord never leaves us on our own. He was, is and will always be with us. About a week ago, our family thanked The Lord that finally my brother has done his thesis. He was able to be accountable for his final project, even now is working on the revision and prepare for an exhibition. He said that not everyone is asked to do the exhibition. It's only for those who have done very well. Somehow he is sure that he might got an A. Well, praise The Lord! :) If things go as planned and The Lord makes everything go smoothly, my brother will have his graduation ceremony this August and soon will get his first job as an IT engineer. As for me, I also never imagined that The Lord wants to entrust me more respo...

How Faithful is our Lord!

Time keeps going. Two years has passed since I lost my dad and I feel thankful today. I woke up quite early this morning and had more time to pray and lift up praises. These twenty four past months, The Lord has been so faithful. I tried to count on The Lord's blessings, guidance, provisions, and answers along these two years. There were soooooooo much from the Lord that if I could give thanks for each matter, I would be late to work today. Hehehe...

Suddenly Fatherless [Part 9]: The Faithful Father

Time flies. My brother and I have been fatherless for 10 months. Today is easier to live as fatherless than few months ago, but the "side effect" of being fatherless is getting harder. We no longer have Papa as our protector and provider. We have to learn to protect ourselves and provide our needs. It's not easy at all. But God has promised to be the Father for the fatherless. And He is faithful!

Suddenly Fatherless [Part 8]: When I could not say 'Happy Birthday, Papa'

Papa, Cece bersyukur Pa, ada 22,5 tahun bisa mengenal Papa. Lebih dari dua puluh tahun merasakan kasih seorang Papa adalah berkat dari Tuhan.  Seharusnya tadi pagi Cece telepon dan bilang, "Happy Birthday, Papa! Cece sayang Papa! Panjang umur ya. Tuhan berkati." Tapi itu tidak terjadi.  Seharusnya hari ini Papa merayakan ultah Papa yang ke-59 dengan suatu ucapan syukur, tapi itu tidak terjadi. Sekarang sudah hampir 7 bulan berlalu tanpa Papa. Hidup tidak pernah sama lagi tanpa Papa. Tahun lalu, saat Cece kangen Papa, kita bisa teleponan, ngomong-ngomong via skype..... Lalu di bulan Desember, Cece melihat Papa menjemput di bandara Juanda.... Tapi tahun ini berbeda. Suka tidak suka, hari-hari tanpa Papa menjadi bulan-bulan tanpa Papa.... Bulan-bulan tanpa Papa akan menjadi tahun-tahun tanpa Papa....

Suddenly Fatherless [Part 6]: Remembering My Dad on Father's Day

Sekitar 12-17 tahun yang lalu, setiap tahun pada hari ayah, aku akan menyanyikan sebuah lagu pada kebaktian umum. Sementara aku menyanyi solo, teman-teman sekolah minggu yang lain akan berjalan ke arah bangku-bangku jemaat sambil membagikan sebuah souvenir untuk para ayah. Setiap kali aku akan menyanyikan sebuah lagu berjudul "PAPA". Tidak diketahui siapa pencipta lagu ini. Yang pasti nadanya sangat oriental. Syairnya sebagai berikut: Tak pernah ku lupa Kasihmu padaku Papa Dalam kelelahan bekerja Kau tetap bri senyum padaku Jerih payahmu Papa Semua hanya untukku Oh, terima kasih Papa

Suddenly Fatherless [Part 5]: Nothing is too tiny for His care

Kalo diinget-inget lagi saat-saat pertama ketika Papa meninggal, ada banyak hal-hal kecil yang luar biasa Tuhan kerjakan. Terbukti Tuhan kita itu setia, tidak ada perkara yang terlalu kecil untuk Dia.

Suddenly Fatherless [Part 4]: Be Secure in the Lord

Image
I'm sorry for your lost... Air mataku tidak bisa tidak mengalir saat menyadari betapa Tuhan juga turut merasakan dukaku kehilangan seorang Papa. Aku bersyukur Alkitab mencatat bahwa Yesus menangis dengan sedihnya saat Lazarus meninggal dunia. Jadi kita bisa yakin dan percaya bahwa Tuhan sungguh-sungguh merasakan duka yang kita rasakan.

Suddenly Fatherless [Part 3]: Not abandoned

Image
Tuesday, May 28, 2013. I supposed to be excited because on May 31, 2013 I would be commissioned as a Christian teacher. My family and relatives would come, but someone is missing. My dad would not be able to see me graduated and commissioned. Family photo would be weird because he already passed away. So what is the meaning of my graduation?

Suddenly Fatherless [Part 2]: Bebas dari Kuatir

Few years ago, my dad preached a short sermon in a family cell. I found the note of his sermon in his bible. It was about "free from worry". Worry had been his struggle of life since my father was an introvert, melancholic person. The doctor said, one factor that dropped his health was depression, stress because of many things he worried about. Therefore, a virus could easily attacked his body and made him palsied, that we thought as stroke. As I remember him and read his note, my heart is full with joy, knowing that in my father's weakness, God's power shown perfectly. All things that he worried before he passed away, God provided perfectly as he went to the Lord. My mom told me that since 2009, as we have been struggle with finance after the company bankrupt (which my dad was an employee there), my dad had been growing in his faith to the Lord. Of course, there were a lot of times when he worried about our future, but he learned to put his hope in the Lord. Durin...

Suddenly Fatherless [Part 1] : Command your soul to hope in God when in times of sorrow.

Image
Death often comes without any warning. I experienced it on Sunday night, April 28, 2013. Suddenly, I became fatherless. Suddenly I lost my father. There was no goodbye.

Behind the SKRIPSI - Part IX: Taste and See the Lord's Goodness

Image
Di postingan sebelumnya, aku sempat cerita bahwa salah satu dosen pengujiku itu didatangkan langsung dari Corban University. Nah, saat aku harus melangsungkan sidang skripsi yang kedua pada hari Kamis, 25 April 2013, dosen yang bersangkutan sudah kembali ke negaranya. Jadi supaya sidang bisa tetap berjalan, maka digunakanlah teknologi yang namanya internet. Awalnya aku diberi tahu bahwa sidang akan dilakukan menggunakan Skype. Unik ya?

Behind the SKRIPSI - Part VIII: Peace that surpasses all conditions

Image
Beberapa hari sebelum sidang, ada dua hal yang membuatku mengganggu, bahkan benar-benar bikin galau. My family's struggle: finance Sejak tahun 2009, karena kebangkrutan di perusahaan tempat Papa kerja, keluarga kami jadi extra bergumul di area finansial. Namun hampir 4 tahun ini bisa dibilang penyertaan Tuhan itu sempurna, segala sesuatu yang kami butuhkan selalu Tuhan sediakan. Bahkan tahun lalu aku bisa jalan-jalan ke Singapore juga karena Tuhan yang sediakan dananya. Kalau bukan karena Tuhan, tidak mungkin aku bisa punya uang lebih untuk jalan-jalan ke luar negri.

Blessed is the man who fears the LORD!

I read Psalm 108-115 this morning and found three times the phrase "fear of the LORD" connected with the word "blessed". Yesterday I watched a sermon video about God in ancient China . Rev. Kong Hee explained the word "blessed" (福/fu) in Chinese character. To write this word in Chinese character, we should put "shen zi pang" first, it is God.    (神) => ["shen zi pang" is the "lines" without that square, see the left side] Then we write together at one (一/yi) with one mouth (口). So God together with a soul, one mouth, and the word garden below the mouth. So that is prosperity (福). Prosperity to Chinese is not just material wealth and money. But it's for God and man to have a one relationship. It is awesome! If you celebrate Chinese New Year with your family and relatives this weekend, I hope you can share this to them. Tell them that God reveals Himself in Chinese writing.

God's Love for Chinese People in Indonesia

Image
Chinese New Year is coming soon! By this weekend, some of my friends are going home to celebrate the Chinese New Year with their families. I am not going home, but it does not mean that I don't celebrate it. Chinese New Year cannot be forgotten. Somehow, I am thinking a lot of Chinese people in Indonesia this past few weeks, especially after I met Guo Shu Shu (Uncle Guo), a stranger and an unbeliever that sat next to me during my last journey by plane. We talked a lot during our flight from Surabaya to Jakarta. He really interested to talk with me. He said that he was thinking that I am Chinese-Medan because of the way I walk and move. I said, "No. I am Chinese-Surabaya." Then we continue our conversation. It was surprising that we have the same family name, "Guo". And we talked a lot about Chinese people in Surabaya.

Serve your family

Image
Salah satu cara untuk memanfaatkan waktu liburan di rumah adalah belajar melayani seisi keluarga sekalian persiapan buat masa depan saat sudah punya rumah sendiri. Hehehe.... Sudah terlalu lama kita dimanjakan orang tua di rumah. Sudah terlalu lama juga Mama capek-capek mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Biarkan orang tuamu libur sejenak.... Daripada seharian tidur atau main game, sebaiknya coba sekali-kali gantikan tugas mereka.

Thanksgiving Thursday: My mom always stay at home

Image
Semalem aku baru balik ke kamar hampir jam 1 pagi. Semua penghuni kamar sudah tidur, kecuali satu orang yang lagi belajar buat UAS. Somehow, aku menyadari bahwa sekalipun berada di dalam 1 kamar, seharian kemaren tu bisa dibilang ga ada waktu untuk bercengkrama bersama roommatesku. Ada sedikit rasa bersalah mengingat padatnya kegiatanku membuat aku jadi jarang ada waktu ngobrol bersama mereka. Apalagi aku bukan sekedar anak kamar biasa aja, melainkan supervisor mereka.

Thanksgiving Thursday: Two Gentlemen in My Life

Image
Hari ini tepat di tengah-tengah dua hari ulang tahun dari dua pria paling istimewa dalam hidupku. Hehehe.... Kemarin hari ultah Titi yang ke-18 dan besok hari ultah Papa yang ke-57. Sungguh bersyukur sampai sekarang kedua pria ini masih ada di sisiku. Sekalipun aku tidak bisa memberikan pelukan dan ciuman lagi di hari ultah mereka (karena kuliah jauh dari rumah >.<), namun aku tetap bersyukur.

A gift for the fatherless

Image
Kemarin siang saat mengembalikan buku ke perpus, aku sekalian lihat-lihat koleksi buku perpus sambil menunggu jam kuliah. Nah, di deretan Christian literature aku menemukan buku Kidung Natal yang Dicintai Anak-anak . Iseng-iseng, aku baca bukunya. Buku ini isinya beberapa lagu Natal dengan sebuah kisah untuk renungan. Kisahnya tidak selalu mengenai latar belakang lagunya, tapi untuk lagu Silent Night ditulis pengarangnya dan bagaimana lagu ini tercipta. Aku coba uraikan di sini. Ada hal menarik yang lebih dari sekedar lagu Natal.