Saturday, August 6, 2016

Kamu telah melakukannya juga untuk Aku

Pertolongan Tuhan memang tidak pernah terduga. Cara-Nya selalu ajaib. Bulan Juli lalu saya merasakan pertolongan-Nya melalui orang-orang asing, yang bahkan tidak saya kenal sama sekali. Sepintas kalau diingat bagaimana kami bertemu, orang akan bilang bahwa itu hanya kebetulan. Tapi saya percaya tidak ada yang kebetulan. Tuhan benar-benar bekerja di dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi orang-orang yang mengasihi Dia. Sekalipun kasih saya kepada Tuhan begitu sederhana dan dangkal, sejauh langit dari bumi demikianlah kasih Tuhan.

Ketika liburan akademik usai, biasanya kondisi kantong saya juga hampir "usai". Jadi saya sudah mulai kuatir, bagaimana menjalani tanggal-tanggal tua. Saya tahu persis bahwa yang saya punya mungkin tidak cukup, bahkan bisa kurang. Saya ingat masih punya tabungan dan sempat berpikir untuk mengambil sedikit dari situ. Apalagi mengingat bahwa pada hari-hari itu ada pengeluaran tambahan yang jumlahnya tidak sedikit. Saya menyerahkan perkara ini kepada Tuhan.

Siang itu di ruang tunggu Bandara Juanda Surabaya, saya melemparkan pandangan ke sekeliling ruangan untuk melihat apakah ada tempat duduk kosong. Hampir semua tempat duduk terisi penuh. Saya sempat melihat satu dua kursi kosong, tapi kalau harus duduk di tengah-tengah pria dewasa di tempat umum, saya sering merasa tidak aman. Jadi ketika saya melihat sebuah kursi kosong di sebelah seorang ibu seumuran Mama, tanpa ragu lagi saya langsung duduk di sana.

Saya tidak menyangka, ibu itu menyapa saya dengan ramah. Ternyata tujuan kami sama-sama ke Palembang. Ia dan suaminya baru menghabiskan liburan di Surabaya. Kami mengobrol santai selama di ruang tunggu, lalu naik pesawat bersama-sama. Kami berpisah ketika di dalam pesawat. Saya sama sekali tidak berpikir kami akan bertemu lagi. Mungkin saja akan bertemu di tempat pengambilan bagasi, mungkin juga tidak.

Setelah turun dari pesawat, saya bergegas mengambil troli supaya bisa segera mengambil koper. Sambil menunggu, saya terpikir untuk order Go Car daripada naik taxi bandara. Tujuannya sederhana, saya ingin menghemat. Ongkos dari bandara ke tempat tinggal saya sekitar delapan puluh sampai sembilan puluh ribuan. Jumlah yang lumayan untuk orang yang isi kantongnya hampir "usai". Kalau naik Go Car, saya bisa hemat sekitar 25%. Tapi beberapa kali dicoba, saya gagal mendapatkan driver.

Baru saja saya berpikir akan menyerah dan naik taxi bandara, pandangan mata saya bertemu dengan pasangan suami istri yang tadi saya temui di ruang tunggu Bandara Juanda. Mereka berdiri sekitar 2 meter dari tempat saya dan bertanya apakah ada yang menjemput saya. Dengan jujur saya menjawab tidak. Tanpa saya duga mereka langsung menawarkan tumpangan. Kedua-duanya berbicara secara bersamaan menawari saya tumpangan. Untuk beberapa detik lamanya, saya sempat ragu. Sekalipun mereka sangat baik, tapi mereka tetap orang asing. Tapi kemudian saya mengangguk setuju sambil menggumamkan, "Terima kasih."

Hari itu saya mendapatkan tumpangan, bisa menghemat ongkos taxi yang berarti juga bisa melewati tanggal tua tanpa harus menarik uang dari tabungan. Hari itu saya tahu persis, bahwa ke manapun saya pergi, saya tidak pernah sendirian. Tuhan beserta saya dan Dia memberikan pemeliharaan dan pertolongan-Nya tepat waktu.

Seminggu kemudian, saya merasa kelaparan setelah seharian beraktivitas. Jadi sebelum melanjutkan latihan di gereja, saya pergi keluar mencari makan sendirian. Saya mampir ke sebuah tempat makan. Ternyata tempat itu hanya menyediakan makanan pada siang hari dan berubah menjadi tempat minum kopi di malam hari. Melihat raut wajah saya yang kecewa, seorang gadis muda berusia 19 tahun menawarkan diri untuk mengantar saya ke sebuah tempat makan Chinese food di dekat sana.

Ketika kami berjalan melewati jalanan yang gelap, gadis ini sempat menasehati saya untuk berhati-hati dengan tas yang saya bawa. Di jalan itu sering terjadi penjambretan. Saya memeluk tas tersebut erat-erat dan berjanji akan berhati-hati. Dalam hati saya merasa takut. Saya ingat sempat berkomentar, "Ngeri juga ya di sini". Setelah sampai di tempat makan yang dimaksud, gadis itu sekali lagi mengingatkan saya untuk berhati-hati ketika pulang. Lalu berpamitan. Setelah berterima kasih kepadanya, saya memesan makanan dan makan di sana.

Sambil makan, saya bertanya-tanya bagaimana nanti saya akan berjalan kaki kembali ke gereja. Mengingat kondisi jalan yang agak gelap dan harus jalan sendirian, saya merasa kuatir. Dalam hati saya menyesal mengapa harus membawa tas. Kalau tadi hanya mengantongi uang dan handphone, pasti akan lebih aman rasanya. Tapi ketika saya selesai makan, gadis yang tadi mengantar masih berdiri di depan tempat makan itu. Jadi ternyata dia menunggu sampai saya selesai makan sambil mengobrol dengan seorang gadis lain.

Saat itu juga saya langsung merasa lega, Tuhan tahu apa yang saya kuatirkan. Tuhan tahu betapa takutnya saya untuk berjalan sendirian. Selanjutnya kami berjalan berdua, saya kembali ke gereja dan dia kembali ke tempat minum kopi tadi. Di tengah jalan, saya menanyakan namanya. Namanya Phoebe. Menurut saya itu nama yang tepat untuknya. Di Alkitab, Phoebe (Febe) disebutkan oleh Paulus sebagai seorang saudari yang telah memberikan bantuan kepada banyak orang, juga kepada Paulus.

Saya tidak tahu apakah saya akan bertemu lagi dengan pasangan suami istri yang telah memberikan tumpangan dan juga Phoebe. Jadi untuk saat ini saya hanya bisa berterima kasih sambil berdoa memohon Tuhan yang membalas kebaikan mereka.

Secara jasmani, saya terberkati dengan kebaikan yang mereka tunjukkan. Secara rohani, saya merasa terberkati dengan kebaikan yang Tuhan berikan. Setelah menerima pertolongan Tuhan melalui kebaikan mereka, saya pun jadi tergerak untuk melakukan kebaikan pada orang-orang yang saya temui, baik orang yang saya kenal, maupun seorang asing.

Suatu hari nanti, saya akan berdiri di hadapan-Nya dalam penghakiman terakhir. Pada saat itu, Anak Manusia akan memisahkan domba-domba dan kambing-kambing. Pada domba-domba-Nya, Raja itu akan memberikan Kerajaan yang telah disediakan sejak dunia dijadikan.

Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. (Matius 25:35).

Pada saat itu domba-domba-Nya akan bertanya, bilamana, kapan mereka melakukan semuanya itu bagi Tuhan.

Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang  kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya juga untuk Aku." (Matius 25:40)

Inilah yang menjadi doa saya untuk Shu-shu dan Ai yang sudah memberi saya tumpangan, juga untuk Phoebe. Saya berharap suatu hari nanti mereka akan menuai kebaikan yang mereka telah tabur. Apa yang orang lain lakukan untuk saya, sadar atau tidak, mereka telah melakukannya juga untuk Tuhan saya, yaitu Tuhan Yesus Kristus.

No comments:

Post a Comment