When God Shapes a Leader: A Principal's First Year
It's only by His grace and by His grace alone that this first year is finished.
Tahun pertama ini bukan tentang bagaimana aku menjalankan sebuah sekolah, melainkan tentang Tuhan yang membentuk seorang pemimpin.
Awalnya aku bersemangat untuk membuat perubahan. Aku ingin membenahi dan membuat segala sesuatu jadi lebih benar. Namun, sepertinya agak berlebihan. Aku lupa bahwa tahun pertama harusnya lebih banyak observasi, melihat, mengenal, dan mempelajari peran dan posisi. Tahun pertama juga tahun penting untuk bangun relasi dan trust. Bukan untuk mengoreksi dan membenahi secara cepat. Langkah perubahan dan inovasi bisa menunggu. Tidak harus buru-buru dilakukan pada tahun pertama.
Memimpin manusia tidak pernah mudah. Ritmenya berbeda-beda untuk setiap orang bisa bertumbuh selaras dengan visi misi sekolah. Aku belajar bahwa kepemimpinan bukan tentang mengendalikan perubahan, melainkan setia menabur dan menunggu. Pertumbuhan butuh waktu.
Dari seluruh perjalanan aku sebagai pendidik, tahun ini paling banyak air mata. Banyak konflik dan gejolak. Banyak pergumulan. Banyak proses yang tidak mudah. Pertumbuhan tidak pernah nyaman.
Menariknya, justru tahun ini aku jadi lebih kenal diri sendiri. Ada penemuan-penemuan yang kurang menyenangkan. Ada sisi-sisi yang gelap. Ada kelemahan-kelemahan yang terekspos. Namun, juga ada anugerah Tuhan yang besar di dalamnya.
Aku bertanya-tanya, apa sih yang Tuhan mau aku pelajari dari semua rangkaian pengalaman yang tidak menyenangkan ini? Sampai 3x aku dapat jawaban dari Yakobus 1:2-4 dalam 1 minggu yang sama:
1:2 Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, 1:3 sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. 1:4 Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.
Tahun ini banyak air mata, tapi Tuhan ingin aku menganggapnya sebagai suatu kebahagiaan. Apa maksudnya menganggap? Itu artinya keadaannya memang tidak membahagiakan, tapi harus aku sebut dan lihat sebagai sesuatu yang membahagiakan. Bagaimana caranya?
Caranya adalah mengganti caraku berpikir dan melihat fakta maupun orang-orang di sekelilingku. Reframing the fact, reframing the story. Selain itu, juga bersyukur. Otak kita akan cenderung mencari dan menemukan bukti-bukti dari apa yang kita pikirkan.
Selain itu, ini semua ujian iman supaya aku jadi lebih tekun. Versi English-nya lebih pas: perseverance. Tetap berjalan sama Tuhan, tetap setia meskipun berat.
Tujuan Tuhan itu supaya aku terbentuk makin sempurna dan utuh. Lagi-lagi versi English-nya lebih pas: mature. Lebih dewasa di dalam Tuhan.
I thought God had called me to lead a school. Looking back, I realize He was also using the school to shape me.
Comments
Post a Comment