Friday, October 3, 2014

Anak-anak di Mata Tuhan

Jadi guru TK itu rasanya asem-asem manis atau manis-manis asem. Ada kalanya anak-anak di kelas terlihat begitu manis, lucu, dan menggemaskan. Namun sering juga ulah mereka bikin geregetan gurunya. Geregetannya itu aduuuuhhhh, pusing lah... >.< Anak-anak TK itu cukup pelupa. Setelah ditegur dan diberi konsekuensi, mereka bisa melakukan lagi kesalahan yang sama. Kalau ditanya, kenapa diulangi lagi? Jawabannya sederhana dengan ekspresi lucu, "Lupa, miss."

Bagian yang tersulit adalah mendidik mereka untuk bertumbuh dalam karakter. Kadang-kadang saya terlalu sibuk mengoreksi kesalahan perilaku dan tata krama mereka, lalu lupa bahwa pelajaran mereka juga penting. Ada kalanya saya mengorbankan jam belajar hanya demi mengajarkan mereka bagaimana mengucapkan terima kasih, meminta maaf, meminta tolong, dll. Itu semua jelas sangat penting, namun pengajaran akademis juga penting.

Kemarin sore, seorang rekan guru bercerita tentang kritik yang diterimanya mengenai pengucapan "Wednesday". Dari situ dia menyadari bahwa selama ini ada banyak kekeliruan spelling yang dia ajarkan. Sama seperti beliau, saya juga belajar bahasa Inggris secara keseluruhan. Intinya sih lebih banyak menghafal dan mengikuti tanpa mengerti. Istilahnya whole language. Kalau anak-anak sekarang belajar pakai phonics, saya tidak. Malah bisa dibilang, belajarnya secara otodidak juga. Setelah bicara sekian lama, kami berdua menyadari bahwa selama ini ada banyak "penyesatan" yang kami lakukan di kelas. Bahkan kalau dihitung-hitung, kami sudah menyesatkan sekian puluh anak. Jadi supaya tidak terjadi penyesatan lebih lanjut, kami menyimpulkan bahwa sangat penting untuk belajar bahasa Inggris dari awal lagi, dari dasar lagi, dengan cara yang hampir sama seperti anak-anak belajar. Bukan dengan metode whole language.

Pagi ini saat membaca Alkitab, Firman Tuhan mengejutkan saya.

Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya: "Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?" Maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka lalu berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga. Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku." Tetapi barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut. Celakalah dunia dengan segala penyesatannya: memang penyesatan harus ada, tetapi celakalah orang yang mengadakannya. Jika tanganmu atau kakimu menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung atau timpang dari pada dengan utuh kedua tangan dan kedua kakimu dicampakkan ke dalam api kekal. Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu masuk ke dalam hidup dengan bermata satu dari pada dicampakkan ke dalam api neraka dengan bermata dua. Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di sorga.  (Karena Anak Manusia datang untuk menyelamatkan yang hilang.)" (Matius 18:1-11)

Bagi Tuhan Yesus yang adalah Raja segala raja, bukan hal yang sulit untuk mengatakan bahwa orang yang terbesar dalam Kerajaan Sorga adalah orang yang serupa Kristus, yaitu mereka yang rendah hati. Bukankah Yesus sendiri pernah berkata, "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan." (Matius 11:28-30). Tetapi Yesus memanggil seorang anak kecil untuk menjawab pertanyaan murid-murid-Nya. Dia bukan saja rendah hati, melainkan juga mengasihi anak-anak kecil.

Tuhan Yesus jelas-jelas menentang orang-orang yang berani menyesatkan anak-anak. Tidak seorang anak pun yang Ia anggap remeh. Bahkan Ia berkata, "Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut aku." Anak-anak begitu spesial dan berharga di mata Tuhan. Kalau menyambut seorang anak berarti menyambut Tuhan, berarti jika kita berdosa terhadap seorang anak maka kita juga berdosa terhadap Tuhan! Kebenaran ini begitu nyata dan menegur dengan tegas setiap orang dewasa. Baik itu guru maupun orang tua.

Tuhan sendiri memperingatkan bahwa kita tidak bisa menganggap rendah seorang pun dari anak-anak kecil ini. Sekalipun mereka ingusan, dimarahi juga tidak mengerti, perkembangan motoriknya lambat, kemampuan bahasanya masih sangat sederhana.... namun mereka punya malaikat di sorga yang selalu memandang wajah Bapa! Presiden punya bodyguard yang bisa ditembak mati kapanpun, anak-anak punya malaikat di sorga! Betapa luar biasa berharganya mereka di mata Tuhan!

Terhadap anak-anak yang kecil dan lemah ini, Tuhan memberikan perhatian yang khusus dan spesial. Sekalipun mereka itu merepotkan, banyak kali juga menyebalkan, bikin geregetan, tidak tahu benar dan salah, bahkan sejak kecil sudah berdosa, namun Tuhan mengawasi dan memelihara hidup mereka. Tuhan menjagai mereka dari orang-orang yang mengganggap rendah dan menyesatkan mereka.

Merdeka!!!
Secara pribadi, Firman Tuhan menegur saya dengan keras. Tuhan jelas-jelas tidak suka jika saya menyesatkan anak-anak. Ketika Dia mempercayakan 21 siswa TK kepada saya tahun ini, Dia ingin saya mengajar dan mendidik mereka dengan benar, baik secara akademis maupun non-akademis. Dia ingin saya juga menjadi rendah hati dan terus belajar supaya jangan saya menyesatkan anak-anak kepunyaan-Nya.

Sebagai guru, saya juga mendorong orang tua murid untuk terus belajar. Kebanyakan orang tua menyerah dan menyerahkan anak-anak mereka kepada guru les. Kebanyakan orang tua merasa sudah terlalu tua untuk belajar dan menganggap remeh kebutuhan anak-anak untuk mendapatkan teladan secara akademis dari orang tuanya. Melalui cara mereka bicara dan memperlakukan anak-anak, mereka menyesatkan anak-anak dengan berkata, "Kamu belajar sama miss ya, yang rajin... Kalau papi mami nggak bisa nggak papa, yang penting kamu pintar." Padahal dengan melihat orang tua berusaha belajar Bahasa Inggris, Mandarin, melanjutkan kuliah, atau hanya sekedar membaca buku untuk menambah wawasan, anak-anak mendapatkan teladan yang baik. Pengajaran yang baik tanpa suatu keteladanan adalah suatu penyesatan.

Sebagaimana Tuhan memandang anak-anak sedemikian berharga, kiranya setiap orang tua dan guru juga bisa memandang mereka demikian.



No comments:

Post a Comment