Tuesday, September 20, 2011

Menjawab Panggilan Tuhan

Kalau lagi KKR, mudah bagi kita untuk bilang "Ya" atas panggilan Tuhan saat itu. Mungkin tidak terpikir juga betapa beratnya konsekuensi yang harus kita tanggung untuk menjawab panggilan Tuhan. Salah satunya yaitu keluar dari comfort zone kita. Keluar dari comfort zone bisa berarti:

  • Meninggalkan rumah dan pergi ke suatu tempat yang jauh dengan lingkungan yang sama sekali berbeda.
  • Tidak mendapatkan apa yang kita inginkan.
  • Harus pergi melayani orang-orang yang tidak kita sukai.
  • Tidak mendapatkan cukup dukungan dari orang-orang di sekeliling kita.
  • Harus berkonflik dan berkonfrontasi dengan orang2 yang kita kasihi.
  • dan lain-lain yang mungkin membuat kita menangis dan ingin mundur dari panggilan Tuhan.
Baru kemarin aku denger suatu kisah pengalaman seorang sahabat yang hampir aja mundur meninggalkan panggilan Tuhan karena nggak bisa lagi pulang ke kota kelahirannya tiap weekend. Sedih waktu denger dia sempat berpikir untuk meninggalkan panggilannya. Di sisi lain aku bersyukur sekali bahwa orang-orang di sekitarnya dan kondisinya sekarang memaksa dia untuk tetep menjalani panggilannya sambil belajar percaya bahwa Tuhan tetap baik sekalipun apa yang dia inginkan tidak selalu bisa terjadi. Aku melihat sekarang ini merupakan kesempatan berharga baginya untuk belajar keluar dari comfort zone-nya agar bisa maksimal dalam menjawab dan menjalani panggilan Tuhan.

Aku jadi inget Friday Night Fellowship mengenai God's love for Papua. Malam itu aku menyadari betapa egoisnya aku dalam menjawab panggilan Tuhan. "Ya, Tuhan. Ini aku, utus aku ke Jakarta, Batam, Surabaya." (maunya kota2 besar doang...)

Menjawab panggilan Tuhan bukan berarti aku berhak menentukan di mana aku akan melayani. Tuhan yang memanggil, Dia yang berkuasa menentukan  di mana aku akan ditempatkan. Kalau itu berarti harus jauh dari rumah... ya, aku sih gak pengen jauh2 dari rumah. Jakarta-Surabaya is enough. Tapi aku tahu bahwa aku harus mempersiapkan diri untuk ditempatkan di mana saja, termasuk daerah-daerah yang kecil di mana ga ada internet, ga ada mall.... hiks.. T-T. Satu hal yang harus selalu kupegang, bahwa Dia adalah Imanuel, Allah yang menyertai.

Aku ingat Nita pernah bilang, "Kita masuk TC dengan bergumul, menjalaninya dengan bergumul, dan keluar dengan tetap mempergumulkan panggilan kita." Bener sekali! Tanpa pergumulan yang sungguh-sungguh, sulit bagi kita untuk menjawab dan menjalani panggilan Tuhan.

Are you ready to answer God's calling ;)

No comments:

Post a Comment

Post a Comment