Tuesday, October 25, 2011

Biarku Merasakan Kasih Bapa

Beberapa waktu belakangan ini aku jadi semakin menyadari betapa pentingnya peran dan kasih seorang ayah di dalam hidup anak-anaknya. Khususnya dalam hidup seorang perempuan muda.

Sabtu lalu saat ikut ACCESS, seusai khotbah, Pastor Andrew meminta setiap kami berkumpul dengan Life Group masing2 dan sharing mengenai hubungan dengan ortu. Saat itulah aku menyadari bahwa sekalipun hubunganku dengan ortu baik2 saja dan selama ini aku cukup dekat dengan mereka, namun tetap ketidaksempurnaan ada dalam hubungan kami. Secara khusus antara aku dan Papa. Selama ini aku mengira bahwa aku lebih butuh Mama daripada Papa, karena aku anak perempuan. Padahal aku membutuhkan peran dan keterlibatan mereka berdua secara seimbang.

Mungkin juga Papa berpikir bahwa sudah seharusnya aku lebih dekat dengan Mama. Setiap kali telepon ke rumah, selalu Mama yang jawab. Setiap kali aku ada pergumulan, Mama lah yang maju dan bicara dari hati ke hati denganku. Aku tidak menyalahkan Papa. Wajar kalau ia berpikir demikian. Bagaimanapun sekarang aku seorang gadis yang beranjak dewasa dan tidak semua hal bisa disharingkan dengan Papa yang merupakan ortu lawan jenis. Selain itu, sejak kuliah di luar kota, aku jadi tidak punya waktu berdua saja dengan Papa. Kalau aku pulang ke Surabaya, kami menghabiskan waktu bersama2 sekeluarga, tidak berduaan.

Aku kaget saat mendapati sore itu air mataku mengalir cukup deras. Secara tidak sadar, kebutuhan emosionalku tidak terpenuhi dengan sempurna. Aku butuh lebih banyak peran dan keterlibatan Papa dalam hidupku. Tanpa peran dan keterlibatannya yang aktif, sulit bagiku untuk benar-benar menjadi seorang wanita dewasa, baik secara spiritual, mental, karakter, maupun emosional.

Seorang dosen yang mengajar mata kuliah Child and Adolescent Development pernah berkata bahwa seorang gadis yang tumbuh dengan tercukupi kebutuhan emosionalnya seringkali cenderung tidak merasa dirinya butuh pacar. Kecuali kalo lagi jatuh cinta dan sudah waktunya menikah. Hehe.... Terus terang, selama ini aku bertanya-tanya, mengapa hubungan yang baik dengan Papa tidak membuatku merasa bahwa kebutuhan emosionalku sudah tercukupi? Terakhir kali aku dekat dengan seorang cowok bukan karena aku betul2 naksir dia (yang bener aja.. @.@) tapi karena secara tidak sadar aku berharap dia bisa memenuhi kebutuhan emosionalku.

Aku merasa ada bagian emosional dalam diri setiap gadis yang Tuhan rancang untuk hanya bisa diisi oleh figur seorang ayah. Seorang gadis akan menemukan rasa amannya di dalam hubungan dengan seorang ayah. Seorang gadis akan tumbuh menjadi wanita dewasa yang mampu membangun hubungan yang sehat dengan lawan jenis (baik teman atau calon pasangan hidup dan bahkan suaminya) hanya jika ia sudah memiliki hubungan yang sehat dengan ayahnya. Hubungan yang sehat di sini berarti ayah berperan dan terlibat secara aktif dalam pertumbuhan putrinya.

Pagi ini untuk waktu 15 menit lamanya aku bicara dengan dorm parent-ku, Pak Stenly, mengenai seorang gadis yang kulayani. Gadis ini tampaknya ceria dari luar, namun sesungguhnya sangat merindukan kasih seorang ayah. Ia masih punya ayah, namun kehilangan keintiman dengan ayahnya dan seringkali di tengah2 banyak orang ia masih merasa sendiri dan kesepian. Ia beberapa kali berpacaran dan menurut pendapatnya tidak satupun dari mantan2nya yang meninggalkan kesan khusus. Hal ini tidak mengherankan karena bagiku jelas sekali yang ia cari dari hubungan dengan mantan2nya bukan cinta antara lelaki dan perempuan, melainkan kasih dan figur seorang ayah.

Aku teringat pada beberapa gadis lain yang juga tumbuh besar dengan ayah yang pasif, ayah yang disfungsi, dan bahkan tanpa ayah. Besar kebutuhan emosional mereka, namun jarang sekali disadari. Dalam kasusku, aku punya hubungan yang cukup dekat dengan Papa dan sangat menyadari betapa aku sangat dikasihi olehnya namun tidak menyadari betapa aku sangat membutuhkan peran dan keterlibatan Papa lebih banyak dari yang ada sekarang.

Sebetulnya sejak liburan Juli lalu, aku sudah memutuskan untuk lebih banyak sharing ke Papa (selama ini Papa juga tahu pergumulanku tapi melalui hasil sharing dengan Mama). Lebih dari sekedar sharing, aku rasa aku butuh untuk lebih banyak mendengarkan Papa daripada Mama (sudah terlalu banyak dengerin Mama.. hehe..). Aku ingat saat menceritakan pada Papa bagaimana mantanku menawarkan untuk menjemput di bandara (padahal dia sudah punya cewek lain). Saat itu Papa memberikan komentar. Walaupun hanya satu kalimat, itu saja sudah cukup membuatku merasa aman dan dilindungi, tahu pasti bahwa Papa menjagaku juga secara emosional. Ketika Papa memutuskan untuk berdiri di depan pintu saat seorang teman cowok menjemput atau mengantarku pulang, ada rasa aman tersendiri karena tahu bahwa Papa memikirkan keselamatan.

Namun lebih dari sekedar kasih, peran, dan keterlibatan Papa yang mampu memberiku identitas sebagai wanita dewasa; aku butuh kasih, peran, dan keterlibatan Bapa di surga yang memberiku identitas sebagai wanita kepunyaan-Nya. Tanpa kasih, peran, dan keterlibatan Bapa di surga dalam hidupku, aku tidak mungkin bisa bertumbuh semakin serupa Kristus hari demi hari.

Air mata adalah bahan untuk menenun pelangi yang terindah


by Kenia Oktavianie on Tuesday, October 25, 2011 at 9:45am




Pagi ini saya terbangun karena suara seseorang menangis di kamar asrama saya. Sedikit kaget, karena tangisannya begitu kencang di pagi hari yang masih sangat sunyi. Selidik punya selidik, saya mengetahui penyebab ia menangis, ternyata salah satu keluarganya meninggal dunia.

Kejadian pagi ini  membuat saya berpikir tentang air mata. Saya teringat pembicaraan saya beberapa hari yang lalu dengan seorang teman. Ia membagikan percakapannya dengan seorang ibu yang suaminya di rawat di rumah sakit karena stroke. Ibu ini menyampaikan pengamatannya selama ia menjaga suaminya berbulan- bulan di rumah sakit. Ia menemukan bahwa orang yang kebanyakan di rawat di rumah sakit karena penyakit stroke adalah seorang laki- laki. Lalu ibu ini membuat sebuah analisa yang menurut saya masuk akal.

Ya, kebudayaan kita menuntut laki- laki untuk tetap kuat dalam kondisi apapun. Jangan menangis kalau kamu benar- benar seorang laki- laki, mungkin kata- kata inilah yang seringkali kita dengar dari mulut orang tua. Hal ini membuat sebagian besar laki- laki yang hidup dalam pola didikan seperti ini bertumbuh menjadi pribadi yang memendam perasaan dan kesedihan. Akibatnya tingkat stress meningkat, dan timbul penyakit karena emosi yang tertahankan. Mungkin inilah yang menyebabkan wanita lebih kuat, mereka lebih bebas mengekspresikan perasaan mereka tanpa tekanan.

Hal ini membuat saya berpikir, sesungguhnya apa yang salah dengan air mata? Bukankah Allah menciptakan air mata untuk suatu tujuan? Dan benarkah ada perbedaan antara pria dan wanita dalam hal menangis? Apakah air mata mengindikasikan kelemahan?

Saya berusaha mencari beberapa penelitian ilmiah tentang air mata. Salah satu yang saya dapatkan adalah ini,  "Seseorang yang menangis bisa menurunkan level depresi karena dengan menangis, mood seseorang akan terangkat kembali. Air mata yang dihasilkan dari tipe menangis karena emosi mengandung 24% protein albumin yang berguna dalam meregulasi sistem metabolisme tubuh dibanding air mata yang dihasilkan dari iritasi mata" (indohot.org). Luar biasa bukan? Allah memang menciptakan air mata dengan sebuah tujuan!

Lalu apa yang salah dengan air mata? Apakah air mata mengindikasikan kelemahan?
Alkitab sendiri menyatakan dengan gamblang, pria- pria gagah perkasa yang menangis. Tengoklah Daud, prajurit hebat yang berhasil; mengalahkan Goliat. Dia menangis. Bahkan di dalam mazmur jelas menyebutkan, "Lesu aku karena mengeluh; setiap malam aku menggenangi tempat tidurku, dengan air mataku aku membanjiri ranjangku." Daud menangis, bahkan setiap malam.

Ayub menangis dalam kesengsaraannya, "mukaku merah karena menangis, dan bulu mataku ditudungi kelam pekat (ayub16:16). Petrus menagis karena menyadari ia telah berbuat dosa dengan mengkhianati Yesus. Yusuf menangis ketika ia bertemu kembali dengan saudara- saudaranya. Dan Yesus pun menangis (Yohanes 11:35).Ya, pria- pria itu menangis

Lalu apa yang salah dengan tangisan dan air mata? Tidak ada bukan?  Setiap orang berhak untuk menagis, tidak perduli gender, usia, atau jabatan sosial. Mengapa? Karena kita masih  manusia. Bukankah tangisan adalah reaksi dari perasaan yang alami, sama halnya dengan teratawa?Bahkan pengkhotbah 7:3 mengatakan, " Bersedih lebih baik dari pada tertawa, karena muka muram membuat hati lega.'"

Air mata mengindikasikan kelemahan? Apa yang salah dengan itu? Bukankah setiap manusia memang lemah? Bukankah ini manusiawi? Air mata justru menunjukkan kerapuhan kita sebagai manusia yang terbatas dan kebutuhan kita akan Pribadi yang tidak terbatas.

Lagi pula bukankah segala sesuatu ada waktunya, "ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari (Peng 3:4). Berikanlah waktu pada kesedihan, jika memang itu yang sedang kamu alami. Tidak ada yang salah dengan itu, Allah menciptakannya untuk suatu tujuan yang mulia. Penyangkalan akan kesedihan, sesungguhnya malah membuat manusia jatuh ke dalam ketimpangan emosi yang lebih parah.

Ada penggalan kata- kata indah yang saya baca di buku karya Max Lucado,

Air mata melegakan otak yang panas,
seperti hujan pada awan -awan bermuatan listrik.
Air mata melepaskan kesengsaraan hati yang tak terpikulkan,
seperti luapan air yag mengurangi tekanan banjir pada bendungan
Air mata adalah bahan yang dibuat di surga untuk menenun pelangi yang terindah.

Pada akhirnya, Allah memang mengizinkan kita menangis, dan itu wajar karena kita masih manusia. Bahkan Ia mengahargainya. Namun sebagai seorang Kristen yang dewasa, alkitab mengatakan dalam 1 tes 4:13b, "supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan." Dalam tangisan karena dukacita yang terdalam pun, ketahuilah bahwa pengharapan di dalam Allah tidak pernah berubah.

Pujilah Tuhan untuk setiap kesempatan untuk menangis, Pujilah Tuhan untuk setiap kesempatan berduka cita. Pujilah Tuhan untuk pengharapan yang Dia berikan.

Jadi, sedang ingin menangis? Lakukan saja.. Tidak ada yang salah dengan itu :) Allah menghargainya.


25 Oktober 2011
Kenia Oktavianie


Monday, October 24, 2011

Looking for my calling

Aku punya English writing assignment untuk dikumpulkan hari Rabu ini. Tugasnya itu tell about what you're looking forward to for your practicum next semester. Reflect on what you learned from last year too. Aku bersyukur dapet tugas ini, membuatku berpikir lebih dalam tentang panggilanku.
Sebenernya sudah mantep sih aku mau jadi guru Kristen, tapi guru seperti apa dan bagaimana, itu masih belum tahu dan harus terus dipergumulkan.
Jadi aku coba buat kira2 kayak gini..... Cukup singkat, karena cuma diminta 1 halaman trus double space juga.


Looking for my calling

I will have my second practicum in January for three weeks. Sometimes, when I think about it, I feel a little bit afraid but not really worried because I have already experienced it. The time between my first and second practicum has been more than one year, so I’m afraid I forgot everything that I learned before and be nervous again. On the other hand, I know that the practicum is not scary as I thought before.
My first practicum was at Sekolah Lentera Harapan Tabita, Koja, Jakarta Utara. It is a small school and students come from low economic background. I was very egocentric and thought about becoming a teacher in a big school with good facilities and high technologies. But I saw them day by day, I realized that God was very concern with this kind of school, with so many students from low economic background. So since that time, I think God gave me a passion to serve in this kind of school.
I taught K-3 students for my first practicum. It was really nice and my students were really cute. I liked to teach them, but not really loved to teach Kindergarten students. It was tiring for me, both physically and mentally. Physically, I have to be more active, like jumping and dancing for many times. Mentally, I didn’t really know how to communicate with them using simple sentences. Although it was tiring, I give thanks to God for the school that He had chosen for my first experience in teaching.
There are many people called to be teachers, but I believe that every person has his own calling. That’s why on my second practicum, I’m looking forward to know what my specific calling as a Christian teacher is. Does God really want me to be a Christian teacher for students with low economic background? Which grade is God calling me to teach and serve in the future?

Written by Novi Kurniadi (4 ED1 / 30720090013)

Friday, October 21, 2011

Need Counseling?

Aku baru aja nyelesaiin 3 sesi konseling. Dimulai dari Jumat lalu, Rabu, kemudian pagi tadi. Lega deh, karena aku jadi lebih kenal diriku sendiri sekarang.

Sebenernya aku sudah cukup kenal diriku sendiri kok. Konselorku juga bilang bahwa refleksi yang aku buat juga mencerminkan pengenalanku sama diri sendiri. Cuma seringnya tuh aku ignore perasaan2ku yang negatif dan berusaha merasionalisasi segala sesuatu. Misal, aku kecewa sama Tuhan. Nah, aku ignore perasaan itu. Padahal ya normal kok kecewa sama Tuhan. Daud aja pernah ngambek. Tapi toh itu gak mengubah kenyataan bahwa ia adalah a man after God's heart kan? Jadi aku harus lebih menerima dan mengakui perasaan2ku (terutama yang negatif). Kalo aku terus2an ignore perasaan2ku itu, manifestasinya bisa mengigau bahkan tertawa saat tidur! Hehehe.... Wajar kok punya perasaan2 negatif. Manusiawi lah.

Tuesday, October 18, 2011

Am I Disappointed with God?

Jumat pagi lalu untuk pertama kalinya aku menjalani konseling. Sebenernya ini sudah kerinduan sejak beberapa minggu lalu, namun baru kesampaian Jumat kemarin.

Awalnya, aku nggak merasa bahwa diriku butuh konseling. Sampai sekitar dua bulan lalu aku mendapati seorang anak kamarku mimpi buruk. Ia sudah memimpikan hal yang sama selama bertahun2 dan belum pernah menemukan jalan keluarnya. Selain itu, dia juga sering mengigau saat tidur.

Memang lebih mudah buat ngelihat orang lain butuh konseling daripada lihat diriku sendiri. Hehehee.... Namun saat aku lihat anak kamarku itu, aku juga ngaca dong! Sudah beberapa tahun terakhir aku sering mengigau saat tidur dan 2 tahun belakangan ini my roommates selalu ngomong kalo aku tuh gak sekedar ngoceh saat tidur, namun juga ketawa ngakak sekenceng2nya di tengah malam. Aku sih gak pernah nyadar! Percaya gak percaya deh mereka ngomong gitu..... Dan aku masih gak merasa bahwa ini sesuatu yang perlu dibereskan.

Namun saat aku memikirkan betapa anak kamarku butuh konseling, Roh Kudus mengingatkanku pada Matius 7:3, "Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok dalam matamu tidak engkau ketahui?"

Okeeee.... Sepertinya aku juga butuh konseling ya.... Jadi aku bilang sama anak kamarku itu, "Yuk, kita konseling bareng2." Tujuan awalnya sih ya biar dia mau dikonseling karena merasa punya temen senasib. Aku masih gak merasa bahwa diriku butuh konseling.

Jadwal konseling di TC sempat cukup padat karena konselor terbatas dan juga adanya mahasiswa2 yang wajib konseling. Selama masa2 penantian akan konselor dan jadwal konseling baru, aku beberapa kali mengalami mimpi yang membuatku tidak tenang. Aku curhat ke seorang sahabat mengenai mimpi2ku itu dan dia setuju dengan dugaanku bahwa sepertinya ada hal2 yang unconcious (tidak disadari) di dalam diriku.

Something's wrong within me..... Masa sih? Aku masih gak terima.

Sampe suatu Jumat pagi ketika morning devotion, Bu Connie menjelaskan bahwa konseling adalah suatu cara bagaimana seorang Kristen mengerjakan keselamatannya. Gak semua bisa dibereskan dengan doa. Tuhan ingin kita menjalani proses untuk menjadi serupa Kristus setiap hari. Terkadang, kita kesulitan untuk mengenal diri kita, sehingga kita sangat butuh konseling.

Singkat cerita, akhirnya ada konselor baru dan aku langsung bisa konseling Jumat pagi lalu. Pertemuan pertama aku baru share mengenai latar belakang hidupku. Konselorku cuma bilang kalo aku tuh orangnya sangat pemikir. Yap, itu bener. Katanya, aku menganalisa banyak hal dan banyak orang, termasuk merasionalisasikan hal2 yang sulit untuk aku terima. Itu membuat aku akhirnya menolak untuk mengakui bahwa aku kecewa sama Tuhan.

In conclusion: I have been disappointed with God for... years? months? days?

Aku merasa konselorku bener..... Tapi masa iya sih?? Aku? Kecewa sama Tuhan?

Sabtu malam lalu sebelum tidur, aku coba berdoa sama Tuhan dan bilang kalo aku kecewa pada-Nya. And guess what? I was crying! Malam itu aku juga banyak mikir mengenai berbagai hal dalam hidupku.. Am I really disappointed with God?

Seminggu yang lalu saat lagi curhat dengan seorang sahabat, aku ingat dia bilang bahwa kita nggak bisa memungkiri kenyataan kalo lagi kecewa sama Tuhan. Kita tahu bahwa seringkali Tuhan tampaknya sengaja membiarkan kita berada dalam kesulitan dan kesedihan. Ingat kisah Lazarus? Tuhan Yesus sudah mendengar bahwa Lazarus sakit, namun Ia sengaja mengulur waktu dua hari. Kemudian Ia datang, turut menangis bersama Maria dan Martha yang berduka atas meninggalnya Lazarus, dan jreng.. jreng.. jreeeeeeng... Dia menunjukkan kuasa-Nya dengan membangkitkan Lazarus!

Tuhan Yang Maha Kuasa tampaknya sengaja membiarkan Lazarus mati..... Tuhan yang sanggup membangkitkan orang mati turut menangis dengan mereka yang berduka.... Lalu Dia menunjukkan kuasa-Nya. Mengapa? Mengapa Dia demikian sengaja membiarkan Lazarus mati? Inilah jawaban Yesus dalam Yohanes 11: 15, "sebab demikian lebih baik bagimu supaya kamu dapat belajar percaya".

Satu hal yang menjadi penghiburan bagiku, di tengah2 ketidakmengertianku akan "kesengajaan"-Nya, adalah fakta bahwa Yesus Kristus turut menangis bersamaku saat aku menangis. Dia mengerti dan memahami betapa sedihnya dan terlukanya aku. Lebih dari itu, Dia ingin aku percaya kepadanya.

Trust in the Lord with all your heart and lean not on your own understanding. (Proverbs 3:5)




*Btw, aku masih gak melihat hubungan antara ketawa saat tidur dengan kecewa pada Tuhan.

Ketaatan yang tak bertangguh

by Kenia Oktavianie on Tuesday, October 18, 2011 at 9:37am

1 Raja- raja 13: 1-34

"Sebab beginilah diperintahkan kepadaku atas firman TUHAN: Jangan makan roti atau minum air dan jangan kembali melalui jalan yang telah kautempuh itu.'"

Alkisah seorang abdi Allah dari Yehuda datang menemui raja Yerobeam untuk menyampaikan pesan Tuhan. Singkatnya Ia berhasil membuat sang Raja tertegur, bahkan mengadakan banyak mukjizat. Tetapi ada satu hal yang Tuhan perintahkan kepada abdi Allah ini, yaitu untuk jangan minum roti atau minum air, dan jangan kembali melalui jalan yang telah ia tempuh. Awalnya, abdi Allah ini taat tanpa pertangguhan. 

Raja membujuk abdi Allah ini sedemikian rupa : "(7) Kemudian berbicaralah raja kepada abdi Allah itu: "Marilah bersama-sama dengan aku ke rumah, segarkan badanmu, sesudah itu aku hendak memberikan suatu hadiah kepadamu." Namun kembali dengan tegas abdi Allah ini menolak bahkan ia berkata, "Sekalipun setengah dari istanamu kauberikan kepadaku, aku tidak mau singgah kepadamu; juga aku tidak mau makan roti atau minum air di tempat ini."  Saya berpikir betapa lur biasanya ketaatan abdi Allah ini. Ia tidak bertangguh sedikit pun.

Namun di tengah jalan, ia bertemu dengan seorang nabi Tuhan yang sudah tua. Dengan segala bujuk rayunya, nabi tua ini berusaha memprovokasi abdi Allah. ""Akupun seorang nabi juga seperti engkau, dan atas perintah TUHAN seorang malaikat telah berkata kepadaku: Bawa dia pulang bersama-sama engkau ke rumahmu, supaya ia makan roti dan minum air." Tetapi ia berbohong kepadanya.

Lalu apa yang terjadi? Ya, Abdi Allah ini percaya. Ia lebih mempercayai perkataan nabi tua ini dibanding perintah Allah. Yang bahkan untuk setengah kerajaan pun ia perjuangkan mati- matian.
Singkat cerita, Ia mulai kompromi dan menjadi tidak taat. Akhir hidupnya mengenaskan. Ayat 24 menyebutkan, "Orang itu pergi, tetapi di tengah jalan ia diserang seekor singa dan mati diterkam. Mayatnya tercampak di jalan dan keledai itu berdiri di sampingnya; singa itupun berdiri di samping mayat itu."

Sungguh mengenaskan bukan? Akhir hidup seorang hamba Tuhan yang seharusnya pulang dengan sorak sorai karena berhasil mengerjakan misi Tuhan. Ingatlah, dia baru saja menegur raja, baru saja membuat mukjizat, baru saja menolak separuh kerajaan. Tetapi kebodohan macam apa yang dibuatnya? Dia luluh hanya karena seorang nabi tua yang membohonginya. Betapa memalukan, betapa ia terlihat sebagai seorang pecundang. Bagi Allah sebuah ketidaktaatan adalah dosa, apapun alasannya. Dia tidak bisa kompromi.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita sering terjebak dalam lubang yang sama? Terjebak dengan nabi- nabi tua yang berusaha memperdaya kita. "Hanya sedikit saja, hanya sebentar saja, percayalah ini tidak akan merusak hidupmu.", "Orang lain tidak akan tau koq.", "Setelah ini bisa bertobat kan? Jadi ya lakukan saja." Apa anda sering mendengar suara- suara ini?  Suara- suara nabi tua yang penuh dengan kata- kata manis yang menjebak. Dosa- dosa yang kita pikir bisa "dikompromikan".

Yang menyedihkan, bagi Allah setiap ketidaktaatan adalah dosa. Itulah sebabnya mengapa Adam dan Hawa harus mati kekal hanya karena memakan buah. Itulah mengapa Musa tidak dapat masuk ke tanah kanaan hanya karena memukul batu. Itulah mengapa Uza mati ketika ia berusaha menyelamatkan tabut suci.

Tapi memang seperti itulah kenyataannya. Setiap ketidaktaatan dibayar dengan mahal. Itulah mengapa Yesus harus mati di kayu salib. Ya, upah sebuah ketidaktaatan yang dilakukan manusia. Dosa memang diampuni, tapi konsekuensi selalu ada.

Saya bergumul secara pribadi. Betapa sering saya mengkompromikan dosa. Menganggap kebohongan- kebohongan kecil dapat diterima. Menganggap sedikit kata- kata kotor atau penghakiman adalah hal yang biasa. Menyia- nyiakan waktu sebagai hal yang dapat dimaklumi. Tetapi darimana saya tau? Kebenarannya Yesus tetap mati bagi saya setiap hari karena "dosa - dosa yang dapat ditolerir" itu.

Ya, bagi Allah. Setiap ketidaktaatan adalah dosa. Sudah cukupkah kita bergumul akan bagian- bagian yang kelihatan remeh ini? Apakah kita terus mencoba bertumbuh dan menang atas setiap dosa sekalipun dengan jatuh bangun? Atau malah tertawa dan menganggap ini adalah biasa?

Bagi Allah, setiap ketidaktaatan adalah dosa. Ini serius, karena ini Yesus mati di atas kayu salib.

18 Oktober 2011
Dengan gentar dan penuh kesadaran.
Kenia Oktavianie

Saturday, October 15, 2011

Bagaimana Seharusnya Memikirkan Pria-Pria Muda


Beberapa waktu lalu, ada temen yang curhat  sama aku mengenai hubungannya dengan teman2 cowok. Baru2 ini aku baca di blog A Daughter of Vision mengenai bagaimana seharusnya gadis2 Kristen memikirkan lawan jenisnya. Berikut ini aku coba terjemahkan dari: http://adaughterofvision.blogspot.com/search/label/Relationships%20With%20Young%20Men dengan bantuan Om Google (biar cepet dan gak ribet sendiri, tpi u know om google so well la.. kadang2 kan agak ngaco gitu.. jdi aku edit2 lgi biar lbh enak dibaca..). 
Ada beberapa frasa yang aku biarkan tetap menggunakan bahasa Inggris karena aku nggak tahu gimana nerjemahinnya secara tepat ke bahasa Indo. Hehe.. Tenang aja, tetap bisa dimengerti kok.
Btw, lebih enak baca bahasa Inggrisnya deh. Lebih ngerti. Kalo diterjemahin rada aneh sih.... Tapi ya ga papa lah.. Biar banyak yang bisa baca, jadi aku terjemahin.. hehe..
Penulis artikel ini namanya Sarah, masih sangat muda, anak SMA, tapi homeschooling gitu. Meskipun masih muda, tulisan2nya sangat biblical dan membangun.
Aku kasih warna kuning pada beberapa bagian yang menurutku merupakan point-point penting dan ada beberapa yang aku tambahin comment-ku sendiri dengan warna ungu.
Semoga memberkati :)

Sejumlah perempuan muda telah menanyakan pada kami tentang hubungan dengan pria muda. Mereka ingin tahu bagaimana seorang wanita muda harus berinteraksi dengan orang-orang dari lawan jenis, or should she at all?

Catatan: Setiap anak perempuan harus mencari bimbingan orangtuanya dalam hal ini. (maksudnya dalam hal menjalin persahabatan sama lawan jenis). Dia harus tahu apa yang ayahnya (dan ibu) pikirkan tentang percakapan dengan orang asing, teman-teman, pelamar, dan pelamar potensial. Saran dalam artikel ini mengandaikan ayahmu menyetujui percakapan murni dan interaksi dengan laki-laki muda, dan bahwa saran-saran kami hanya akan diterapkan dalam situasi dan cara yang telah disetujui ayahmu. Jika pemikiran di bawah ini mewakili praktik yang berbeda dari apa yang ayah atau orang tua telah tetapkan untukmu, terus ikuti arahan yang telah diberikan oleh orang-orang dalam otoritas yurisdiksi atas dirimu.

Isu mengenai bagaimana orang-orang muda dengan pantas dapat berinteraksi dalam cara yang murni dan nyaman telah dipertimbangkan oleh pikiran yang matang dan lebih bijaksana dari kita. Namun, kami ingin menyampaikan beberapa pemikiran sebagai dua orang muda yang saat ini menavigasi perairan ini diri kita sendiri, dan setelah mendengarkan perspektif banyak teman, baik laki-laki dan perempuan, tentang masalah ini.
Dalam posting ini kami akan menawarkan beberapa pengamatan yang dikumpulkan dari orang-orang muda yang paling matang kami tahu (dengan dosis berat saran dari orang yang lebih tua dan sudah menikah, terutama orang tua kami).

Secara umum diketahui bahwa orang Kristen seharusnya berinteraksi sebagai saudara dan saudari dalam Kristus, but during the highly-charged season of eligibility, orang-orang muda di gereja yang khas tidak yakin bagaimana melakukan ini.

Bahkan di family-integrated gereja, cowok dan cewek sering tidak tahu bagaimana untuk berinteraksi nyaman sebagai saudara dan saudari. Kita biasanya melihat ini dinyatakan dalam salah satu dari dua cara: either flirting and posturing,or shying demurely away from any interaction with the other sex. Kedua gejala mungkin tampak berlawanan, tapi mereka berdua berasal dari akar masalah yang sama: kegagalan untuk memikirkan yang lain sebagai "[saudara atau] saudari, dengan penuh kemurnian" (1 Tim 5:2.)

Dengan kata lain memikirkan lawan jenis hanya untuk masalah pernikahan. (maksudnya tuh kalo mikirin temen2 cowok tuh cuma: cocok apa gak buat dijadiin pacar/suami). Masalah ini dapat diperkuat oleh fakta bahwa sebagian besar dari kita tidak tahu bagaimana seharusnya hubungan saudara-saudari seiman terlihat, sehingga tidak memiliki dasar atau kerangka untuk to transfer over to our spiritual brothers. Ayah kami selalu mengajarkan kami bahwa memahami hubungan persaudaraan dapat membantu kita memahami mengapa pria dan wanita dalam Tubuh Kristus yang disebut sebagai saudara dan saudari, and give us the wisdom to gracefully maneuver a season so (potentially) fraught with complexity.

Jelas, harus ada beberapa perbedaan antara bagaimana kita memperlakukan anggota keluarga dan cowok-cowok muda di luar keluarga. (caraku memperlakukan adik cowokku dan temen cowokku harus beda). Because this “eligibility” phase can be volatile, orang muda harus ekstra bijaksana dalam cara mereka menangani hubungan-hubungan ini - tidak terlalu khawatir tentang konvensi, tetapi selalu berpikir hati-hati tentang bagaimana untuk mengasihi orang-orang di sekitar mereka, mengingat bagaimana bersikap dengan tepat dalam segala situasi, dan tunduk pada bimbingan yang ditetapkan oleh orangtua mereka.

Pada artikel ini, kita tidak akan berusaha untuk menetapkan kode etik, atau aturan "keterlibatan" antara kedua jenis kelamin - aturan dan perlindungan adalah untuk keluarga Anda sendiri untuk menentukan sewaktu Anda mencari Kitab Suci. Apa yang ingin kita jelajahi di sini adalah sikap saudari-saudari seiman terhadap pria-pria muda. Ingat, pola-pola perilaku kita dimulai dalam hati dan pikiran. Kita tidak bisa memperlakukan laki-laki muda sebagai saudara sampai kita menganggap mereka sebagai saudara. It does not follow that we should throw propriety to the wind and embrace all young men with unconstrained sibling familiarity, but we can identify and follow many of the sameprinciples that we do with our own brothers, without the same level of intimacy.

Apa artinya untuk memikirkan laki-laki muda sebagai saudara?

Apa prinsip-prinsip kasih saudari-saudari seiman yang berlaku untuk laki-laki muda lainnya?

Seorang saudari harus melihat keluar untuk kepentingan terbaik saudaranya. Tentu saja dia tidak ingin melihatnya terluka, ditipu, atau sakit hati karena kecewa. 

Seorang saudari berdoa untuk saudaranya, untuk masa depan istri dan keluarganya(bukan malah berdoa, "Tuhan... aku naksir dia.. kasih dia dong buat jadi suamiku..." that's a selfish prayer!)

Seorang saudari  mengerti bahwa ia adalah seorang manusia yang tidak sempurna, dengan kekurangan dan kelemahan yang harus dilihat dengan kemurahan hati, kesabaran dan pengertian.(bukan dengan seenaknya ngejudge cowok2 yang bikin ilfeel, apalagi sampe ngomong, "amit2 dah gak mau gue sama cowok kayak gitu")

Seorang saudari melihat saudara sebagai sesama manusia diciptakan dalam citra Allah - tidak lebih dan tidak kurang. 

Seorang saudari harus menyadari bahwa seorang saudara akan mempertanggungjawabkan pada Tuhan untuk setiap kata-katanya, setiap pikirannya, setiap perbuatan yang dia lakukan - termasuk dalam berurusan dengan perempuan. This should put the fear of God into her to not want to see stumbling blocks put before him. (Nah loh.. Setiap perkataan, pikiran, dan perbuatan cowok2 sama kita cewek2 ini akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Sudah seharusnya dengan takut akan Tuhan kita sebagai cewek2 berhati2 supaya gak menjadi batu sandungan buat saudara2 kita.)

Seorang saudari harus menyadari bahwa pria muda seharusnya mencari Kerajaan Allah terlebih dahulu (seperti yang kita baca dalam Matius 6:23). Kita seharusnya tidak dengan sengaja mengalihkan perhatian mereka. Kita harus membangun mereka dalam jenis hubungan yang akan mendorong mereka dalam fokus mereka untuk melayani Tuhan, dalam upaya jantan mereka, bukan jenis hubungan yang akan memberi makan kelemahan mereka dan kesombongan. Young women can fuel or even ignite a man’s penchant for mere “interaction” – bantering, toying, dallying, trivial exchanges about nothings — a shallow (and selfish) substitute for hearty friendship and substantial conversation. (Yang dimaksud dengan mengalihkan perhatian ya dengan sengaja bikin cowok2 naksir dirimu. Seharusnya sebagai cewek2, kita menolong cowok2 fokus sama Tuhan, bukan sama diri kita yang cantik, manis, imut.)

Apa yang pria-pria muda katakan

We have an advantage many girls would love to have – we have five brothers, yang semuanya berbicara secara terbuka dengan kami tentang apa yang mereka lakukan dan tidak menghargai dalam memperlakukan perempuan-perempuan muda dan teman-teman mereka. Saudara-saudara kami telah memberitahu kami bahwa mereka merasa lebih mudah untuk memikirkan dan memperlakukan seorang wanita muda sebagai saudari dalam Kristus, ketika dia bertindak seperti seorang saudara perempuan dalam Kristus. (kalo sebagai cewek kita gak bertindak sebagai saudari di dalam Kristus, jangan harap cowok2 akan memperlakukan kita sebagai saudari2! Yang ada mereka nanti malah tebar pesona dan bikin kamu ke-ge-er-an, abis itu patah hati!) Solid young men can usually discern fairly quickly whether a girl is unselfishly looking out for the best interests of her Christian brothers, or views them simply as prospective marriage material – or worse, as objects to sport with. Mereka cenderung merasa lebih nyaman dengan gadis yang clearly has no designs or expectations, and uneasy speaking to a girl who seems focused on her eligibility, the matrimonial possibilities, the deep significance of their interaction… (Among other things, the guys can be concerned that their brotherly friendliness will be misconstrued as a mark of intention.)

Menurut saudara-saudara kami, mereka menghargai bila:

Seorang gadis tampak nyaman dan santai. 

A girl talks to them in the same spirit that their sisters do.

Seorang gadis adalah pembicara yang baik, berpendidikan dan memiliki hal-hal menarik untuk dikatakan. (Bisa ngomongin macem2 - Topiknya gak melulu topik cewek yang muter2 urusan menjahit, diet, pakaian, film cewek, diri sendiri, dll)

Seorang gadis memiliki minat yang tulus dalam hal-hal dari Allah, dan keinginan untuk berbicara mengenai hal-hal tersebut dan mendiskusikannya. (Godly men love godly women!)

Mereka tidak menghargai ketika:

Seorang gadis tampak berlebihan sadar diri dan terganggu oleh fakta bahwa PRIA MUDA YANG MEMENUHI SYARATNYA SEDANG BERBICARA PADANYA! (maksudnya tuh kamu sebagai cewek lebay salah tingkah and overacting karena cowok idamanmu lagi ngomong sama kamu.)

A girl exhibits leech-like behavior – however flattering it was intended to be.

Seorang gadis terlalu ramah, over-agresif.

Seorang gadis menunjukkan kalau dia sengaja menghindari cowok-cowok, lengkap dengan menghindari kontak mata dan bersembunyi di balik tameng. (Be yourself girls!!)

Kesimpulan
Knowing how to interact with all purity is a test – parents and young people have had to deal with this throughout history, sometimes trying to solve problems through strict societal conventions and rigid codes of conduct.

Standar dan aturan kesopanan harus dianggap. Masalahnya adalah, mereka tidak pada akhirnya memperbaiki masalah. Hanya mengobati sikap hati kita - budidaya kasih agape, kebijaksanaan, perhatian, dan persepsi dan intuisi untuk membedakan kebutuhan saat itu - akan membantu kita bertindak sepantasnya sebagai saudari-saudari di dalam Kristus.

Girls, cobalah mempertimbangkan setiap cowok yang kamu kenal sebagai suami masa depan wanita-wanita yang sudah Tuhan pilih. Bahkan, kamu dapat berdoa untuk istri-istri mereka sekarang (note: not match-making), dan jangan lupa untuk berdoa bagi teman laki-laki, bahwa Tuhan akan membimbing dan melindungi mereka dalam memilih seorang istri.

Cobalah untuk bertindak seperti saudari, bukan calon pasangan hidupDon’t be obsessed with your own eligibility, or theirs either, for that matter. Tanpa pamrih, interaksi yang jujur ​​dengan laki-laki muda memiliki potensi untuk mendidik, merangsang, mendidik, mengilhami dan mendorong kedua belah pihak. Jangan mempersulit, atau menghalangi, persahabatan ini dengan bermain game tebak2an psiko-romantis. (maksudnya kamu sebagai cewek2 jangan coba2 menodai persahabatan dengan lawan jenis dengan main TTM atau HTS-an)

Dan akhirnya, girls - rileks! Bersukacitalah. Percaya pada kedaulatan Allah. Bersyukurlah untuk kesempatan bersahabatan dengan anak-anak Allah. Ingat bahwa pria-pria muda ini merupakan  jiwa-jiwa yang berharga dibeli oleh darah Kristus, and fellow soldiers in His cause. Mari kita membangun persahabatan yang akan terus berlanjut lama setelah masa lajang berlalu, bahkan sampai kekekalan.(bukan sekedar persahabatan selagi jomblo dan belum punya pacar, melainkan persahabatan yang kekal di dalam Tuhan)

Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. (Yohanes 13:34)

Thursday, October 13, 2011

Thanksgiving Thursday: Broken Handphone

Ucapan syukur tidak hanya diucapkan saat hidup kita diberkati dan baik2 saja, namun juga harus diucapkan saat sesuatu yang tidak menyenangkan terjadi. Ingat, Allah turut bekerja dalam segala perkara! Mau tahu kisah2 Thanksgiving Thursday yang lain? Atau mau join juga menuliskan Thanksgiving Thursday?Klik di sini.

This is my story.......

Selasa malam lalu saat lagi on the way ke apartemen dorm parents, aku lihat ada kilat dan angin cukup kencang. Jadi aku pikir mendingan matiin hp dulu sementara. Beberapa menit kemudian aku nyalain lagi gak ada sinyal sama sekali. Si April nyaranin supaya direstart aja. Oke, aku restart deh. Gak cukup sekali dua kali, namun beberapa kali tetep gak ada sinyal.

Nyampe di apartemen dorm parents, aku lihat ada sinyalnya. Lega deh....

Pulang dari apartemen, aku cek hp lagi, gak ada sinyal lagi. Padahal temen2 yang pake provider seluler yang sama tuh sinyalnya penuh dan baik2 aja. Jadi bingung kenapa nih hp jadi error gini.

Malemnya, aku agak susah tidur karena batuk2. Sesekali pas terbangun, aku lihat hp. Eh, ada sinyal. Aku pikir ya baguslah, berarti cuma error aja sesaat.

Rabu pagi kemarin, aku mendapati hpku tanpa sinyal sama sekali. Ini sim card-ku yang rusak atau hp-ku yang rusak? Penasaran, aku pinjem sim card orang lain untuk dimasukin ke hpku. Eh, tetep gak ada sinyal juga. Masalahnya bukan sama sim card-nya, tapi sama hp-nya. Entah kenapa hp-ku itu gak bisa nangkep sinyal provider seluler dan ada tulisannya error 2B 05 gitu.

Sebenernya tulisan error itu udah beberapa bulan ini nampang di layar hp tapi gak aku gubris. Toh error-nya itu cuma kayak ga bisa redial dan mesti ngetik ulang no yg mau ditelepon atau nyari2 di phonebook dulu. Gak terlalu masalah gitu. Aku juga gak ngerti kok bisa sih sekarang error-nya jadi gak bisa nangkep sinyal gitu.

Praktis, sejak Selasa malam sampai hari ini hpku gak bisa dipake berkomunikasi baik telepon maupun sms. Kalopun tiba2 muncul sinyal di hp, tetep aja gak bisa terima dan kirim sms/telepon. Jadinya tuh hp cuma berfungsi sebagai mp3 player dan alarm bangun pagi.

Anyway, aku bersyukur lo hpku rusak. Hehehe..... Aku merasa dalam waktu sekitar 40 jam terakhir ini hidupku jauh lebih tenang. Biasanya tuh ya, ada aja yang sms ribut2 urusan kuliah, choir, dorm, dll. Sampe2 aku merasa gak bisa jauh2 dari hp. Gadget ini harus ada dalam radius 1 meter dari diriku dan harus selalu on. Sedikit2 aku ngecek hp. Kuliah, makan, tidur, bahkan hang out gak bisa bener2 focus karena dikit2 aku mesti buka hp, balas sms, forward sms, menjawab telepon, ngecek messages di fb, dll.

Memang sih, sempat jengkel juga nih hp kok rusak seenaknya. Kalo ada apa2 tuh jadi ribet juga karena aku gak bisa dihubungi dan gak bisa menghubungi siapa2. Tapi hari2 kayak gini nih sudah lamaaaaaaaaaaa nggak aku rasakan. Tenang, gak ribut diganggu bunyi sms/telepon. Gak perlu nunggu2 sms (lah, gak bisa nerima sms, nunggu apaan?).

Hidup dan tinggal di kota besar dan segala kesibukannya membuat aku lupa bagaimana caranya duduk tenang. Dulu kalo udah baca buku, aku bisa baca tuh buku sampe berjam2 dan gak dengan mudah terganggu sama kondisi sekitar. Belakangan kalo lagi baca buku, belum abis satu chapter aku udah ngelirik hp, ngecek ada sms masuk kagak. Beberapa jam sekali mesti ngecek status fb.

Tanpa disadari, gadget maupun media jejaring sosial kayak fb dan twitter sudah benar2 merampas focus utama dalam hidupku. Susah buat aku untuk duduk sejam aja fokus sama satu hal tanpa ngecek hp. Kalo secara aneh hpku sekarang rusak, aku harus bersyukur. Ini kesempatan bagus untuk aku merefleksikan lagi: apa fokus hidupku sesungguhnya?? Apakah Kristus benar2 sudah menjadi fokus hidupku??

Terkadang, untuk menunjukkan kasih-Nya kepada kita, Tuhan harus mengambil apapun yang menghalangi kita melihat kasih-Nya. Itu bisa berarti apapun. Termasuk hp rusak, kehilangan orang yang dikasihi, gagal dalam studi, kehilangan pekerjaan, gak punya duit, dll. Bukan berarti Dia itu Allah yang merusak dan merugikan umat-Nya. Sebaliknya Dia ingin supaya kita ini beroleh segala kelimpahan dalam hubungan dengan Dia. Oleh karena itu, Tuhan melindungi kita sedemikian rupa supaya jangan sampai apapun dan siapapun menggeser fokus hidup kita sehingga kita semakin jauh dari-Nya.

Terima kasih Tuhan, hari ini aku boleh benar2 merefleksikan, apa fokus hidupku sesungguhnya?? Apakah Kristus benar2 sudah menjadi fokus hidupku??
Tolong aku untuk sedikit lebih mengenal dan mengasihi Engkau hari ini.

Wednesday, October 12, 2011

Are You Blessed?


If you woke up this morning with more health than illness..........
you are more blessed than the million who will not survive this week.
 
If you have never experienced the danger of battle,
the loneliness of imprisonment, the agony of torture, or the pangs of starvation.......
you are ahead of 500 million people in the world.
 
If you have food in the refrigerator, clothes on your back,
a roof overhead and a place to sleep...
you are richer than 75% of this world.
 
If you have money in the bank, in your wallet, and spare change in a dish someplace....... you are among the top 8% of the world's wealthy.
 
If your parents are still alive and still married........
you are very rare, even in the United States.
 
If you hold up your head with a smile on your face and are truly thankful.....
you are blessed because the majority can, but most do not.
 
If you prayed yesterday and today........
you are in the minority because you believe God does hear and answer prayers.
 
If you can read now, you are more blessed than over two billion people in the world that cannot read at all. 
 
 
If you own a Bible, you are abundantly blessed,
about 1/3 of the world does not have access to one.
 
 
If you wake up each morning with more health than illness,
you are blessed to rise and shine,
to live and to serve in a new day.
 
 
If you have anyone on the planet, just one person
that loves you and listens to you; count this a blessing.
 
 
If you can freely attend a church meeting without fear,
then you are more blessed than over 1/3 of the world.
 
 
If you have a yearning in your heart to parent a child,
you are blessed because you still desire what you cannot see.
 
 
If you pray today or any day, you are blessed because you
believe in God’s willingness to hear your prayer.
 
 
If you pray for someone else,
you are blessed because you want to help others also.
 
 
If you have food in your refrigerator, clothes on your
back, a roof over your head, and a place to sleep;
all at the same time; you are rich in this world;
 
 
If you have a brother or sister in Christ that will pray
with you and for you, then you benefit from a spiritual unity,
bond, and agreement, which the gates of hell cannot stand against.
 
 
If you have any earthly family that even halfway loves you and support you,
are blessed beyond measure.
 
 
If you attend a church with a church family that offers
you one word of encouragement, you are blessed with some form of fellowship.
 
 
If you have money in the bank, in your wallet,
or some spare change in a dish someplace,
you are among the world’s wealthy.
 
 
If you can go to bed each night, knowing that God loves you,
you are blessed beyond measure.
 
 
If you can read this message, you are more blessed
than about 2/3 of the world.
 
 
If you have never had to endure the hardship and agony
of battle, imprisonment, or torture, you are blessed in
indescribable measure.
 
 
If you have a voice to sing His praises, a voice to witness God’s love,
and a voice to share the gospel, you are blessed.
About 1/3 of the world does not even know who the one true God is.
 
 
If you can hold someone’s hand, hug another person,
touch someone on the shoulder, you are blessed because
you can offer God’s healing touch.
 
 
If you can share a word of encouragement with someone
else, and do it with His love in your heart,
you are blessed because you have learned how to give.
 
 
If you have the conviction to stand fast upon His Word
and His promises, no matter what, you are blessed because
you are learning patience, endurance, and tenacity.
 
 
If you hold up your head with a smile on your face and
are truly thankful, you are blessed because most people can, but won’t.
 
You are truly blessed..

http://321greetings.com/inspirational/reasons-why-you-are-blessed/
http://www.inspirationalstories.com/10/1005.html

Tuesday, October 11, 2011

Bagi Allah ini serius dan mendesak

by Kenia Oktavianie on Tuesday, October 11, 2011 at 9:27am

"Karya terbesar dalam hidupku, pengorbananMu yang slamatkankanku, Engkaulah harta yang tak ternilai, yang kumiliki dan kuhargai. Yesus Engkau kukagumi "

Sepenggal lirik yang sederhana namun begitu mendarat sayup terdengar dalam keributan bus kota. Dibawakan bukan oleh seorang worship leader di gereja, tidak dengan suara yang indah, tidak dengan penghayatan yang mendalam, atau dengan improvisasi nada yang baik. Hanya dengan sebuah gitar biasa, dengan kunci- kunci yang sedikit tidak pas,dan dengan suara yang sumbang. Dia menyanyikannya, seorang pengamen biasa di tengah keributan bus kota.

Mungkin memang bukan hal yang luar biasa mendengar seorang pengamen menyanyikan lagu "gereja" dalam bus kota. Beberapa pengamen lain pun sering melakukannya, berharap mendapat lebih banyak uang dari pendengarnya. Namun bagiku, hari itu tidak biasa. Hari itu Rabu, bukan Minggu dimana umat Kristen mungkin pergi untuk beribadah ke gereja sehingga masuk akal jika memang kebanyakan orang dalam bus adalah penikmat lagu- lagu gereja. Namun siang itu Rabu, hari yang biasa, dengan penumpang kebanyakan menggunakan jilbab.

Bagiku, ini bukan hari yang biasa. Lirik lagu sederhana ini begitu mengena membuat aku berpikir seberapa sering kita menggumuli soal keselamatan, karya salib yang mulia. Pengamen ini mungkin pengamen biasa, mungkin juga bukan orang percaya, namun dengan jelas ia melafalkan lagu ini :"Yesus Engkau kukagumi." di tengah keributan bis kota, di tengah kebanyakan penumpang yang bukan orang percaya. Ia menyebut namaNya berulang kali, dengan jelas.

Ya, seberapa sering kita menggumuli keselamatan yang Tuhan berikan? Seberapa sering kita bersyukur untuk kepastian yang Allah berikan? Seberapa dalam kita menyadari berharganya pengorbanan Yesus di kayu salib? Seberapa sering kita haus membagikan kabar baik ini kepada orang- orang yang benar membutuhkannya, mereka yang mungkin sedang bertanya- tanya kemana mereka akan pergi setelah hidup ini berakhir?

Pengamen ini melakukannya. Ya, setidaknya ia menyanyikannya. Setidaknya mereka mendengarnya. Hal yang terlalu sederhana untuk di elu- elukan. Dia mungkin bukan seorang penginjil besar atau bahkan mungkin bukan orang percaya. Tapi ia melakukannya. Pertanyaan bagiku, dimana peran kita hari- hari ini? Masihkah kita bergumul untuk suatu karya yang tak ternilai harganya? Masihkah kita menyanyi untuk memberitakan kabar baik ini? Dimana kita sekarang? Apa yang sedang kita kerjakan? Benarkah kita sungguh- sungguh melayani Tuhan? Benarkah kita sungguh- sungguh bekerja di ladang Tuhan?

Terlintas sebuah hymne sederhana yang sering saya dengar di ibadah :
Thank you Lord for saving my soul
Thank you Lord for making me whole
Thank you Lord for giving to me
Thy great salvation so pure and free

Apakah sungguh karya keselamatan ini cukup penting bagi kita sehingga kita dengan tidak jemu- jemu menyaksikannya?
Bagi Allah, ini serius dan mendesak.

Karawaci, 11 Oktober 2011
Di ruangan perpustakaan yang dingin :)