Tuesday, January 19, 2016

Ketika Kita Tidak Dimaafkan

Kadang-kadang ada saatnya kita berbuat salah, mengaku salah, bahkan minta maaf, tetapi tetap tidak dimaafkan. Lalu kita merasa tidak enak. Namun apakah yang bisa kita perbuat jika seseorang tidak mau memaafkan kita? Bisakah kita memaksa?

Berulang kali saya mendengar anak-anak mengaduh. "Miss, aku sudah minta maaf tapi dia nggak mau." Biasanya kalau sudah begitu, saya akan tanya balik apa masalahnya dan bagaimana caranya meminta maaf. Kalau dia sudah minta maaf dengan cara yang benar dan tulus, tapi tetap tidak dimaafkan oleh temannya, biasanya saya akan memuji keberaniannya meminta maaf dan mengaku salah lalu menjelaskan bahwa temannya mungkin butuh waktu untuk memaafkan. Baru setelah itu saya dekati teman yang belum mau memaafkan itu. Tidak lama kemudian, mereka berdua sudah berdamai, saling memaafkan dan bermain lagi bersama sampai terjadi perebutan mainan yang berikutnya.

Namun kehidupan kita sebagai orang dewasa tidaklah semudah itu. Harus saya akui, sebagai orang dewasa rasanya saya tidak seberani anak-anak TK dalam hal mengaku salah dan meminta maaf. Mereka yang kecil ini punya jiwa yang jauh lebih besar. Tidak heran kalau Tuhan Yesus berkata, "Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga (Matius 18:4)".

Makin sulit lagi bagi kita untuk rendah hati ketika kita sudah mempertaruhkan harga diri, mengaku salah, meminta maaf, kemudian tetap tidak dimaafkan. Namun ketika merenungkan hal ini, saya menyadari bahwa ada berkat Tuhan ketika kita tidak dimaafkan. Kita patut bersyukur dan bersukacita pada saat orang lain tidak mau memaafkan. Mengapa?

Yang pertama, adalah agar kita tetap rendah hati.
Tentunya sulit. Sangat sulit malah. Iya sih kita yang salah, sudah ngaku dan minta maaf juga, tapi kok masih aja diperlakukan seperti teroris. Di sinilah kita belajar untuk menyangkal diri. Tetap rendah hati. Bukan dengan kekuatan sendiri pastinya, melainkan dengan pertolongan Roh Kudus. Di sini kita belajar menyadari bahwa harga diri kita bukan ditentukan oleh apakah seseorang memaafkan kita atau tidak.

Namun bukankah kita juga butuh dimaafkan?

Tentu! Salah satu kebutuhan kita yang paling mendasar adalah diampuni. Namun syukur kepada Tuhan di dalam Yesus Kristus karena kita beroleh pengampunan di dalam-Nya.

Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. (1 Yohanes 1:9)

Kalau Tuhan sudah mengampuni, apa pentingnya lagi pengampunan dari manusia? Diampuni oleh Tuhan jauh lebih penting daripada diampuni oleh manusia. Inilah berkat yang kedua. Identitas kita yang sejati tidak bergantung pada apa yang seseorang rasakan tentang kita. Kita tahu dengan pasti bahwa kita adalah orang berdosa yang sudah diampuni di dalam Kristus dan itu sudah cukup untuk membuat kita hidup dalam sukacita dan ucapan syukur.

Tapi ada kalanya ketika kita betul-betul merasa tidak enak mengetahui bahwa kita tidak dimaafkan oleh orang lain. Seperti murid kecil saya yang merengek, "Dia nggak mau maafin, Miss."

Inilah saatnya kita menunjukkan belas kasihan kepada mereka yang tidak mau memaafkan kita. Seringkali mereka yang tetap marah dan menyimpan akar pahit berada dalam posisi yang lebih menderita baik secara rohani maupun jasmani. Sulit bagi mereka untuk mengampuni dan berarti sulit juga bagi mereka untuk hidup tenang, terlebih ketika melihat kita yang dibenci ini.

Di dalam anugerah Tuhan kita tetap dapat menunjukkan kemurahan hati tanpa menerima kebencian mereka. Sama seperti Bapa kita yang murah hati, yang menurunkan hujan kepada orang benar dan tidak benar, menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik.

Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian? (Matius 5:46-47).

Suatu kali murid kecil saya merengek karena tidak dimaafkan temannya. Setelah mengakui kesalahannya dan meminta maaf, saya berkata kepadanya bahwa saya sudah memaafkan dia, jadi dia bisa bermain lagi. Saya katakan padanya bahwa dia tidak perlu kuatir lagi akan pendapat temannya, karena saya sudah memaafkannya. Dasar anak kecil, dengan polosnya dia tersenyum riang lalu berkata kepada temannya, "Kata Miss nggak papa." lalu tidak pusing lagi apakah temannya mau memaafkan atau tidak.

Kemudian saya mengerti. Ternyata lebih penting baginya mendengar bahwa gurunya memaafkan dia. Demikian pula seharusnya lebih penting bagi kita mengetahui bahwa Guru kita, Yesus Kristus, sudah memberikan pengampunan kepada kita. Kalau Dia sudah mengampuni, maka tidak perlu ada lagi rasa malu, rasa bersalah, dan rasa dihakimi.

Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. (Roma 8:1)

Biarlah hati kita senantiasa damai karena pengampunan yang dari Tuhan, sekalipun ada orang yang membenci kita.

No comments:

Post a Comment