Sunday, January 17, 2016

Tuhan di Depanmu

Seminggu terakhir benar-benar menggelisahkan. Sebagian besar orang tentu gelisah mendengar berita teror bom di Jakarta. Demikian juga saya. Sekalipun tinggal di Palembang juga turut gelisah dan merasa tidak aman. Apalagi dalam kurun waktu seminggu terakhir ini saya mendengar dua orang rekan guru yang dijambret di dekat sekolah. Bahkan pagi ini saya baca di koran Sumatera Express mengenai kasus pembegalan yang terjadi di Palembang. Satu kata yang saya rasakan: ngeri.

Ke mana pun kita pergi, di mana pun kita berada, tidak ada jaminan keamanan yang mutlak 100%. Malah sepertinya di mana-mana bahaya mengancam. Sebagai anak-anak Tuhan, kita pun tidak luput dari kejadian-kejadian seperti yang saya sebutkan di atas. Sudah banyak juga anak-anak Tuhan yang menjadi korban kejahatan. Tentunya kita berharap tidak akan pernah (atau kalau sudah pernah, tidak akan lagi) menjadi korban kejahatan. Namun siapa yang bisa menjamin keamanan kita di tengah-tengah dunia yang berdosa?

Di tengah-tengah kegelisahan dan rasa tidak aman yang menyergap saya mencoba untuk tenang dan berdoa. Tidak mungkin saya membiarkan diri saya ketakutan lalu diam saja di dalam kamar. Diam-diam saja di kamar tidak menyelesaikan masalah. Malah saya jadi teringat kisah kepala sekolah saya yang rumahnya kemalingan. Kan seram juga kalau tiba-tiba ada maling ketika saya sedang berada di kamar. Bagaimana saya akan menghadapi segala kemungkinan kondisi yang tidak aman ini sepanjang tahun?

Di dalam Alkitab ada seorang muda yang memandang masa depannya dengan was-was. Ia merasa tidak aman menghadapi masa depan. Yosua yang masih muda harus menggantikan Musa memimpin sebuah bangsa yang besar untuk memasuki tanah Kanaan. Namun Firman Tuhan dalam Ulangan 31:6 jelas berkata kepadanya,
Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan jangan gemetar karena mereka, sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau; Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.
Bukan saja Tuhan akan menyertai dan tidak akan membiarkan maupun meninggalkan Yosua, melainkan juga Tuhan berjanji bahwa Dia sendiri akan berjalan di depannya.

Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati. - Ulangan 31:8-
Ayat inilah yang menyentuh hati saya awal tahun ini. Bahwa Tuhan sendiri akan berjalan di depan saya. Berarti Dia sudah tahu apa yang akan saya alami dan hadapi. Dia sudah melihat kesukaran dan tantangan hidup yang menanti. Bahkan bahaya-bahaya yang mengancam satupun tidak ada yang Dia tidak tahu.

Yosua pun tahu bahwa ada bahaya pedang yang menanti di depan. Namun ia menguatkan dan meneguhkan hatinya, mempercayai Tuhan yang berjalan di depannya dan berhasil membawa bangsa Israel memasuki tanah Kanaan.

Saya bersyukur punya Allah yang memahami kekuatiran kita. Dia tahu betapa jahatnya dunia tempat kita tinggal. Yesus Kristus sendiri merasakannya. Bahkan Dia merasakan penderitaan yang jauh lebih kejam daripada yang mungkin pernah kita alami. Sekalipun Dia adalah Allah, namun Yesus pun mengalami masa-masa di mana hidup-Nya tidak aman, menderita, bahkan mati di kayu salib. Justru oleh karena kematian-Nyalah kita beroleh kasih karunia di hadapan Tuhan dan beroleh bagian dalam kebangkitan-Nya. Kalau hidup Tuhan Yesus aman-aman saja, berkat apa yang kita bisa beroleh hari ini di dalam Dia?

Apapun yang menanti di depan, Tuhan sudah ada di sana. Mengapa saya harus takut?

3 comments:

Hans Deny said...

Thanks Ms. Novi :)
Sharing-nya sangat memberkati saya
Apapun yang menanti di depan, Tuhan sudah ada di sana. Saya tidak takut!
GOD bless you

Novi Kurniadi said...

Sama2, Mr Deny :)
God bless you too.

Novi Kurniadi said...

Sama2, Mr Deny :)
God bless you too.

Post a Comment