Sunday, April 12, 2020

Paskah di Tengah Pandemi Covid-19

Paskah dirayakan setiap tahun. Namun setiap tahunnya berbeda. Tanggalnya tak pernah sama, situasinya pun demikian.

Masih jelas dalam ingatan saya Paskah 2 tahun silam, tepat 1 April 2018. Hari Paskah bertepatan dengan April Mop. Seakan Tuhan ingin menunjukkan di tengah-tengah kebohongan dan hoaks yang marak saat itu, bahwa kebangkitan-Nya sungguh benar terjadi. Bukan isapan jempol belaka.

Tahun ini, tepat 12 April 2020, dunia sedang mengalami pergolakan besar akibat dari pandemi Covid-19. Sudah berminggu-minggu kita menjalani ibadah secara online, di rumah saja. Untuk pertama kalinya bagi kita, secara serentak semua umat Kristen di seluruh dunia merayakan Jumat Agung dan Paskah di rumah.

Friday, June 14, 2019

Sebelum Memberi Pinjaman Hutang, Pertimbangkan Dulu 5 Hal Ini

Memberi pinjaman di bawah Rp 50.000 ketika sedang hang out bersama teman merupakan hal yang sepele. Duit nggak dibalikin juga nggak masalah. Namun kalau teman sudah pinjam uang senilai lebih dari ratusan ribu, siapa yang tidak kuatir uang tersebut tidak kembali?

I do think that God wants us to lend some money to help others wisely.

Kalau kita teliti, hal pinjam meminjamkan uang ini juga Tuhan atur dalam Firman-Nya. Dia tahu betapa urusan duit adalah hal yang sangat sensitif, sangat berpengaruh dalam kehidupan umat-Nya.

Saturday, October 13, 2018

Segera Menikah, Perlukah Saya Membeli Lingerie?

Walaupun tidak ada dalam list, persiapan pernikahan mestinya juga menyangkut persiapan untuk hubungan intim antara suami isteri. Walaupun tidak dibicarakan, a bride to be must be thinking about this.

Friday, May 25, 2018

Ketika Saya Lupa, Orang Asing Ini Malah Ingat Untuk Melakukan Kebaikan

Hari ini Mama mertua saya ultah.
Dan saya lupa!
Nikah aja belum, saya sudah lupa hari ultahnya! Menantu macam apa, coba?

Malah Mama saya yang sudah lansia itu ingat ultah besannya!

"Ce, mertua lu ultah bulan Mei kan ya?" Begitu bunyi chat-nya via Whatsapp.

Saat melirik jam, sudah jam 3 sore.

Waduh!

Cepat-cepat saya chat Mama mertua via WA. "Selamat ulang tahun ya, Ma."

Mama mertua mengucapkan terima kasih dan bertanya kapan saya pulang ke Surabaya.

Pulang kerja, saya agak lembur, lalu harus ke gereja untuk latihan pelayanan ibadah
hari Minggu. Sambil menunggu teman-teman sepelayanan ngumpul semua,
saya buka Instagram.

Sudah telat, pikir saya. Kalau mau kirim makanan mestinya minimal H-1.

Tiba-tiba saya teringat Montana Ice Cream, langganan keluarga calon suami
yang memang dekat rumah. Biasanya es krim mereka memang ready stock.

Saya cari IG-nya dan menghubungi kontak WA yang tertera.

Singkat cerita, saya mau order ice cream tart black forest yang katanya ada 1.
Baru bisa diantar agak malam karena pegawainya lagi tarawih.

Tidak masalah, bahkan pas menurut saya.
Jam segitu keluarga calon suami lagi dinner di luar, merayakan ultah Mama mertua.

Owner Montana Ice Cream menyanggupinya. Deal!

Saya bilang agar notanya jangan disertakan. Mending foto aja kasih via WA ke saya.
Lalu saya minta nomor rekeningnya untuk pembayaran.

Ketika selesai latihan, saya sudah dapat nomor rekening untuk transfer biaya es krim,
tapi tidak langsung saya transfer. Saya pikir tanggung, nanti kalau sudah sampai kos baru
transfer.

Eh, setengah jam kemudian saat di kos, saya buka WA dan ditanya sudah transfer apa
belum. Katanya es krim yang saya pesan tidak ada. Dengan tulus, owner Montana Ice Cream ini
meminta maaf. Tidak hanya itu, ia kemudian menawarkan puding Bon Ami.

Saya pikir boleh juga lah. Toh sudah malam. Kalau mau order lainnya, memang bisa?
Lagipula saya sedang tidak berada di Surabaya.

Memang ada Bon Ami di daerah situ. Namun sayangnya, berhubung ada di kompleks
perumahan, stoknya terbatas. Cuma tersedia puding ukuran personal.

Yaaaahhh.... kecewa sih, tapi ya sudahlah. Saya yang dadakan order, wajar kalau nggak
dapat apa-apa. Sudah bagus ini owner-nya Montana Ice Cream mau repot-repot cariin
di Bon Ami.

Saya bilang terima kasih dan sudah berniat mengakhiri chat.

Eh, tak disangka owner Montana Ice Cream ini malah dengan semangat bilang,
"Coba ta cari ke Kertajaya".

Ya sudah kalau dia tak keberatan, pikir saya. Diam-diam saya heran, kok ada orang niat
banget gini.

Singkat cerita, ada puding buah cantik lengkap dengan tulisan happy birthday di Bon Ami
Kertajaya. Langsung saya transfer. Kemudian langsung diantar juga ke rumah mertua.

Dia sendiri lo yang antar, bukan gojek atau pegawainya yang tadi lagi tarawih itu!
Nah, bos macam apa yang mau jadi kurir dadakan ini?

Selesai delivery itu, saya mengucapkan banyak terima kasih pada owner Montana Ice Cream.
Lega sekali, keinginan untuk memberi sesuatu untuk Mama mertua akhirnya tercapai.

Tak lama kemudian, dia mengirimkan foto gambar struk Bon Ami.

Saya kaget!

Saya kira dia akan mengambil untung (kan sudah sewajarnya begitu, benar?).
Ternyata tidak sama sekali!

Langsung saya tanya. Kok tidak ada ongkosnya???

Dengan polos, ia menjawab. "Kan saya yang nggak enak, tadi keliru cek stok es krimnya."

Lah??? Padahal ya gak masalah, wong saya yang ngawur! Order makanan kok dadakan begitu,
langsung minta kirim malam ini juga lagi!

Wah, saya benar-benar terharu! Tidak menyangka ada orang jualan mau serendah hati ini.
Bukan hanya minta maaf, dia malah ganti rugi!

Kebayang ga, dia ga minta ongkos jasa titip beli! Padahal sudah bawa mobil sendiri
cariin puding demi mertua saya! Udah ga untung malah rugi bensin, bayar parkir pula!

What he did was doing an extra mile!

Apa yang dia lakukan ini mengingatkan saya pada perkataan Tuhan Yesus:

Matius 5:41
Dan siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia
sejauh dua mil.

Saya nggak paksa dia lo. Dia yang rela. Lebih bagus lagi kan?

Saya benar-benar terberkati dengan apa yang dilakukannya. Sampai speechless nggak
tahu mau ngomong apa. Terharu sekali ini owner-nya Montana Ice Cream bisa kayak begini.

Doa saya, owner Montana Ice Cream makin diberkati Tuhan! Saya balas kebaikanmu dengan
cara menuliskan dan menyebarkan kisah ini ya. Kan kata Tuhan Yesus,

Matius 5:16
Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat
perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga."

O ya guys, kalau mau order Montana Ice Cream jangan ragu ya!

Ini es krim enak banget, rasa mirip persis sama es krim kolonial legendaris di Surabaya itu,
bahkan harganya jauh lebih ramah kantong! Bisa setengah harga dengan kualitas yang sama
premiumnya.

IG-nya:
montana.ice.cream

*Artikel ini sudah dipost via IG dan WA story pribadi saya
Kamis, 24 Mei 2018

Tuesday, May 22, 2018

Demi Pangeran Harry, Meghan Markle Rela Mengikuti Aturan Kerajaan yang Tak Masuk Akal

Berfoto selfie, pakai baju menerawang, makan mendahului ratu, aktif dan eksis di sosmed, duduk dengan menyilangkan kaki, dan entah apa lagi yang dilarang untuk dilakukan Meghan Markle sebagai istri Pangeran Harry. Kalau tidak salah ada 10 hal yang disebut wartawan sebagai “larangan gila”.

Marry into an imperial family, she has to let go so much of her freedom.

Walaupun tampaknya sepele, tapi saya rasa tidak mudah menjalani hidup dengan larangan-larangan yang tampaknya tidak signifikan itu. Mau tak mau, aturan dan larangan kerajaan kini mengekang hidupnya.

Benarkah dia merasa terkekang?

Tuesday, March 20, 2018

“Mama Papa, Kenalkan Ini Pasanganku” – Menghormati Orangtua Dalam Pacaran Kristen

“Kita mampir sebentar ke rumahku ya”, sang calon pacar ngomong sambil belok ke sebuah perumahan di Surabaya Timur, ternyata menyembunyikan kejutan kalau saya akan dikenalkan ke anggota keluarganya!!

Singkat cerita, sore itu saya langsung dikenalkan ke Mama dan adik dari sang calon pacar yang memang sedang ada di rumah. Sempat ngobrol sebentar sambil menunggu dia mengambil barang di kamarnya. Dalam hitungan menit, mini drama diakhiri dengan pamitan dan kami lanjut pergi jalan-jalan lagi….

Pertemuan itu singkat dan kelihatannya hanya sekedar ‘mampir’. Namun ternyata, belakangan ketika sudah jadi pacar, dia mengatakan kalau peristiwa itu sudah direncanakan. Supaya tidak terkesan kaku dan formal, dia mengajak ‘mampir’… jadi saya bisa santai dan bersikap apa adanya. Tidak perlu grogi atau sungkan karena mau ketemu “camer”. Wah….I really don’t know what to say….

Read more

Saturday, March 17, 2018

Ujian Kasih dalam Mengatur Keuangan

Setahun lebih telah berlalu sejak adik dan saya sepakat untuk membayarkan premi asuransi Mama setiap bulan. Saya sempat kisahkan di sini bagaimana kami mengambil langkah iman dan menyaksikan berkat pemeliharaan Tuhan pada bulan-bulan awal tahun 2017 lalu. Tidak lama setelah saya memposting kisah ini, saya mendapatkan tantangan yang lebih besar dalam keuangan.

Selama hampir 4 tahun bekerja di Palembang, saya beroleh kesempatan untuk tinggal di mess guru dengan biaya yang sangat terjangkau. Namun bulan Mei tahun lalu mau tidak mau saya harus pindah tempat tinggal. Kos-kosan di sekitar tempat saya bekerja tarifnya 3 kali lipat dari yang biasa saya bayarkan untuk biaya bulanan di mess guru.

Selain itu, kamarnya pun lebih kecil dan sempit. Kalau di mess guru dulu saya bisa tidur sekamar berdua dengan seorang rekan, di kamar kos kayaknya tidak mungkin.

Pada saat-saat seperti itu, sejujurnya saya mulai punya pikiran jelek. Seandainya.... seandainya saya nggak perlu bayar premi asuransi untuk Mama.....

Hubungan LDR: Bagaimana Cara Merawat dan Bertahan ?

Bagi saya, a bride-to-be, preparing a marriage life is more important than preparing a wedding day. 

Untuk seterusnya dan selamanya saya akan jadi istri dari orang yang sama, nggak boleh ganti-ganti lagi.

Jadi saat ini saya sedang berusaha sebisa mungkin mengenal calon suami saya lebih dalam lagi.

Nah, tantangannya buat saya adalah Long Distance Relationship (LDR).

Lanjut baca

Saturday, January 27, 2018

Ketika Pertunangan Berakhir

Setahun terakhir, saya mendengar dan menyaksikan secara langsung 4 kisah pertunangan yang tidak berhasil lanjut sampai ke pelaminan. Seorang teman berkata, “Ngeri juga ya. Aku jadi takut.”

Namun saya menguatkan hati dengan penuh kepercayaan kepada Tuhan. Berhasil atau tidaknya pertunangan saya, bukankah Tuhan tetap memegang kendali? When God is in control, what is there to be afraid of? He was, is, and will always be with us.

Image result for broken engagement
Photo by Huffington Post
Pasangan yang kelihatannya sudah pasti akan menikah bisa tiba-tiba putus hubungan. Semua vendor bisa di-cancel walaupun persiapan pernikahan telah matang. Gosip pun beredar. Air mata tercurah. Hidup makin terasa pahit dan sulit untuk dijalani. Bagaimana kita bisa menjalani hari-hari menanggung rasa sakit dan malu?

Friday, January 5, 2018

Allah Menyertai Kita: Pemulihan Pasca Operasi

Bagian yang paling membuat saya ragu sehingga sempat menunda untuk dioperasi dan berusaha bertahan dengan amandel sebagai sumber penyakit adalah masa pemulihannya. Anak-anak bisa pulih dengan sangat cepat, bahkan sehari setelah operasi katanya bisa kayak nggak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. Namun tidak demikian halnya pada orang dewasa. Rata-rata butuh 2-3 minggu, bahkan ada yang sebulan dua bulan.

Sebelum operasi, saya dapat info kalau pasca operasi harus hemat bicara, nggak boleh bicara keras-keras, harus makan makanan lembut terus. Bagi saya, kondisi seperti itu agak menyusahkan kalau saya masih masuk kerja. Sebagai seorang guru, saya butuh untuk berbicara, tidak jarang dengan suara yang keras. Apalagi kalau belajar di luar kelas, yang cukup sering terjadi. Tidak hanya itu, sebagai orang yang biasa menyanyi, saya pun sempat kuatir suara berubah. Kata orang, akan jadi lebih cempreng pasca operasi.

Oleh karena itu, saya menunggu liburan sekolah untuk dioperasi. Liburan Natal dan Tahun Baru tidak sepanjang liburan kenaikan kelas. Tadinya saya pikir kalau memang harus operasi saat liburan Natal, maka pada saat masuk sekolah di awal Januari ini saya masih dalam proses pemulihan (baca: masih menderita). Jadi hal ini juga membuat saya ragu.

Kalau saya dioperasi bulan Juni nanti, kayaknya lebih enak. Ada waktu yang lebih panjang. Namun mempertimbangkan rencana-rencana dan jadwal padat yang menanti di pertengahan tahun, saya memutuskan untuk menyerahkan diri dioperasi Desember lalu.

Kekuatiran saya mengenai proses dan waktu pemulihan ini sungguh merupakan hal yang Tuhan sangat tahu dan mengerti. Saya bersyukur bahwa lamanya proses pemulihan bukan tergantung pada apa kata orang atau apa yang biasanya terjadi.