Monday, June 17, 2013

Suddenly Fatherless [Part 6]: Remembering My Dad on Father's Day

Sekitar 12-17 tahun yang lalu, setiap tahun pada hari ayah, aku akan menyanyikan sebuah lagu pada kebaktian umum. Sementara aku menyanyi solo, teman-teman sekolah minggu yang lain akan berjalan ke arah bangku-bangku jemaat sambil membagikan sebuah souvenir untuk para ayah. Setiap kali aku akan menyanyikan sebuah lagu berjudul "PAPA". Tidak diketahui siapa pencipta lagu ini. Yang pasti nadanya sangat oriental. Syairnya sebagai berikut:

Tak pernah ku lupa
Kasihmu padaku Papa
Dalam kelelahan bekerja
Kau tetap bri senyum padaku
Jerih payahmu Papa
Semua hanya untukku
Oh, terima kasih Papa

Biasanya saat giliranku menyanyi tiba, Papa akan berdiri tepat di hadapanku, di barisan paling belakang, sambil tersenyum menyaksikan putrinya bernyanyi. Suatu hari aku bernyanyi dengan suara fals dan Mama mengomel setelahnya (risiko punya Mama yang biasa mengajar paduan suara), tapi Papa hanya tertawa kecil. Dia suka mendengarku bernyanyi, baik merdu maupun fals. Kadang-kadang dia juga suka bernyanyi dan memanggilku "nonik" dalam nyanyiannya. Kalau kami pergi ke suatu tempat, biasanya ke acara pernikahan, Papa akan mendorongku untuk bernyanyi. Lalu dengan bangga akan dia ceritakan pada orang lain betapa putrinya suka bernyanyi.

Sekarang aku merindukannya, tapi tidak bisa tersampaikan. Selama kuliah di Jakarta, jauh dari rumah, sering Papa kirim sms, "Papa kangen cece", yang selalu kubalas dengan ungkapan serupa, "Cece juga kangen Papa". Sekarang ketika merindukannya, tidak ada yang bisa dilakukan kecuali mengingat dia.

Namun mengingat Papa tidak selamanya menyedihkan karena merasa kehilangan. Sebaliknya, mengingat Papa begitu menyenangkan, begitu indah. Kehadiran seorang ayah yang mencintai keluarganya merupakan berkat terindah yang pernah dimiliki anak-anak. Aku bersyukur untuk seorang Papa yang begitu mengasihi keluarganya. Tidak setiap anak bisa bersandar pada ayahnya, tapi selama hampir 23 tahun aku punya seorang Papa yang begitu mengasihiku. Lebih dari itu, dia seorang yang mengasihi Tuhan.

Bagaimana aku belajar untuk punya hubungan pribadi yang intim dengan Tuhan setiap hari? Setiap pagi selama bertahun-tahun, aku selalu melihat Papa berduaan dengan Tuhan. Teladannya lebih dari sebuah nasehat dalam kata-kata. Dia membawa keluarganya untuk melihat pada yang kekal, bukan yang sementara. Dia memimpin keluarganya kepada Tuhan. Setiap hari selama bertahun-tahun dia bekerja keras supaya anak-anaknya bisa mendapatkan pendidikan terbaik, bisa tetap sekolah di sekolah Kristen yang mahalnya selangit, bahkan kuliah di universitas Kristen yang harganya mencekik. Cita-citanya adalah melihat kedua anaknya bisa meraih ilmu setinggi mungkin dan menjadi orang yang berhasil. Sayangnya, dia tidak sempat melihat seorang pun anaknya lulus menyandang gelar sarjana. 

Pada hari ayah tahun ini, aku berdoa supaya ada lebih banyak anak-anak yang memiliki kesempatan untuk melihat keintiman ayah mereka dengan Tuhan. Tidak ada ayah yang sempurna, tapi seorang ayah yang takut akan Tuhan akan dengan sempurna mengasihi anak-anak mereka. Tidak ada warisan yang lebih berharga daripada kasih seorang ayah. Kiranya Bapa yang di surga membuat hati para ayah berbalik kepada anak-anaknya.

Next part >>>

2 comments:

Yuniar Dwi Setiawati said...

wah aku ingat juga nov, waktu aku sekolah minggu dulu aku juga nyanyiin ini terus bagiin souvenir, sungguh moment yg bikin terharu, aku ingatnya kau ada bersamaku juga waktu itu. hehehe mama kamu yg dorong aku untuk baca puisi, ya aku ingat !!

Novi Kurniadi said...

o ya? Wah, aku sudah lupa lo.. hehe..
Iya dulu kan Mama yg melatih paduan suara sekolah Minggu.. hehe..

Post a Comment