Friday, September 9, 2016

Tuhan Sandaran Keluargaku


Dua minggu terakhir benar-benar merupakan minggu kemenangan bagi kami sekeluarga. Setelah 3 tahun bergumul, akhirnya adikku lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan sebagai seorang IT administrator di sebuah perusahaan swasta di Surabaya.

Tahun 2013 setelah Papa meninggal dunia, kami benar-benar bergumul dan berjuang supaya adikku bisa lanjut kuliah sampai meraih gelar sarjana. Secara finansial sangat mustahil bagi kami untuk membayar biaya kuliahnya sampai selesai. Bahkan beberapa orang mengatakan kalimat-kalimat yang mematahkan semangat, tetapi kami beriman bahwa Tuhan akan menjadi Bapa kami yang setia. Hari ini saya bisa saksikan, bahwa kami menang!


Saya ingat saat mengajukan beasiswa, pihak kampus mengatakan bahwa adik saya hanya bisa mendapatkan beasiswa SPP 100% maksimal hingga semester keempat. Selanjutnya tidak mungkin lagi bisa mendapatkan beasiswa, sekalipun nilainya baik. Tetapi kenyataannya, sampai delapan semester adik saya bisa mendapatkan beasiswa SPP 100%. Pihak kampus bisa saja membatasi pemberian beasiswa, tetapi kalau Tuhan di atas segala tuan mau adik saya menerima beasiswa hingga lulus, maka itulah yang terjadi. Jadi selama 4 tahun kuliah, kami hanya perlu membayar biaya SKS-nya.

Meski begitu, membayar biaya SKS-nya juga bukan perkara ringan. Biayanya cukup tinggi. Mengetahui perjuangan kami, seorang kerabat menyarankan supaya adik saya berhenti kuliah saja. Menurutnya, pendidikan dan gelar sarjana tidak penting. Yang penting bisa kerja dan cari uang. Namun kami sepakat bahwa adik saya harus kuliah sampai lulus dan meraih gelar sarjana. Saya pun bertekad untuk berkorban demi cita-citanya. Lagipula, adik saya seorang yang cerdas, suka belajar. Justru dengan menghentikan kuliahnya berarti mematikan cita-cita dan semangatnya, bahkan mungkin menghancurkan masa depannya.

Menjelang kelulusannya, seorang kerabat dekat lain berkomentar bahwa gelar dan tingkat pendidikan seseorang tidak menjamin keberhasilannya. Belum tentu adik saya bisa cepat dapat kerja, kalaupun bisa paling-paling digaji mepet UMR. Bagi dia, yang penting hoki. Kalau tidak hoki mana bisa berpenghasilan tinggi. Bagi kami, yang penting bersandar Tuhan. Kalau tidak bersandar Tuhan, kami tidak akan berhasil.

Selama ini ada satu ayat yang selalu saya pegang.
Mazmur 68:5 (TB)  (68-6) Bapa bagi anak yatim dan Pelindung bagi para janda, itulah Allah di kediaman-Nya yang kudus; 

Saya bersyukur Tuhan menepati Firman-Nya. Tuhan yang membela Mama saya di hadapan orang-orang yang merendahkan cita-citanya untuk menguliahkan adik saya hingga lulus dan menjadi sarjana. Tuhan juga yang menjadi Bapa bagi adik dan saya. Dia menyediakan, melindungi, membimbing, memperhatikan, dan mengasihi kami.

Seminggu setelah wisuda, adik saya diajak bekerja di sebuah perusahaan pengimpor alat-alat kesehatan untuk rumah sakit sebagai seorang staff IT. Teman-temannya banyak yang tidak setuju, karena mereka tidak suka dengan cara bicara bosnya. Mereka menyarankan supaya adik saya cari kerjaan lain. Tapi kami sekeluarga punya sudut pandang berbeda. Tidak seorang pun bisa berbicara dengan sempurna. Bos yang bicaranya kalem pun juga belum tentu lebih baik. Lagipula, kita tidak bisa segera menerima apa kata orang tanpa mengecek dulu kebenarannya. Secara pribadi, adik saya berani mengambil tantangan ini. Kami mendoakan dan mendorong dia untuk maju dalam wawancara.
Ternyata, bosnya seorang Kristen yang jelas bukan hanya Kristen KTP, tetapi seseorang yang suka bicara tentang Kristus dan karya keselamatan-Nya. Punya bos yang seiman adalah doa kami. Kami juga berdoa supaya adik saya bisa mendapatkan penghasilan yang baik. Ternyata lebih dari sekedar baik, bahkan adik saya bisa mendapatkan gaji hingga 30% lebih tinggi dari gaji saya sekarang. Tadinya kami sudah mencari tahu standar gaji rata-rata seorang IT administrator, khususnya yang fresh graduate. Kami juga sudah siap kalau seandainya dia digaji sejumlah itu. Tetapi ternyata berkat kemurahan Tuhan, adik saya bisa dapatkan jauh lebih tinggi daripada standar gaji rata-rata.
Kalau bukan Tuhan yang menjadi sandaran kami, kalau bukan Tuhan yang memelihara hidup kami, sia-sialah iman kami. Sia-sialah kami berjuang dan berdoa sambil mencucurkan air mata. Kami bersyukur Tuhan memberkati dan memberikan penggenapan janji-Nya pada kami sekeluarga. Masa depan kami ada di dalam tangan Tuhan, bukan manusia.

Biarlah Tuhan menjadi satu-satunya pribadi yang kami puja dan agungkan setiap kali orang bertanya mengenai hidup kami. Biarlah nama-Nya selalu kami muliakan setiap kali mulut kami menyaksikan perbuatan-Nya dalam hidup kami sekeluarga. Segala pujian dan hormat hanya bagi Tuhan!

1 comment:

Margaretha Maria said...

Sangat setuju. Tuhan, Dia dan hanya Dia penyedia bagi kita.

Post a Comment