Friday, May 30, 2014

Tuhan yang Memberi Pertumbuhan

Tahun ajaran 2013/2014 sudah hampir berakhir. Report card anak-anak sudah harus siap. Bahkan komentar naratif-nya sudah jadi. Tahun pertamaku mengajar hampir selesai. Kalau dipikir-pikir lagi, selama setahun terakhir, apa yang sudah anak-anak pelajari? Bagaimana mereka bertumbuh di kelasku?

Sejujurnya, aku nggak merasa berjasa besar. Alasan pertama, aku merasa masih banyak sekali kekurangan. Sebagai fresh graduate teacher, setiap hari adalah hari pertama dan pengalaman pertama mengajar. Sampai hari ini kadang-kadang aku masih bertanya-tanya dengan tidak mengerti, misalnya mengapa tiba-tiba seorang anak menangis di kelas atau bagaimana mengajarkan suatu materi pelajaran yang baru. Alasan kedua, anak-anak TK zaman sekarang sudah pinter-pinter. Setiap hari rajin les calistung plus bahasa Inggris. Belajarnya juga sangat ketat dan intensif, nggak pake acara main-main seperti kegiatan belajar di sekolah. Dari 19 murid di kelas, aku cuma merasa berjasa sama satu orang anak. Dia nggak les di rumah. Selain itu juga orang tuanya sibuk kerja. Jadi satu-satunya orang yang mengajari dia ya cuma aku. Gimana dengan yang lain?

Ada beberapa anak yang kayaknya secara akademis tidak terlalu kelihatan berkembang. Jadi aku merasa tidak membawa pengaruh apa-apa. Kalau dipikir-pikir lagi, anak-anak ini mau diajarin kayak apa juga kesannya tuh nggak ngefek. Lah dari rumah sudah pinter. Seringkali mereka selangkah lebih maju dari rencana pengajaran yang sudah disiapkan gurunya.

Sejak beberapa bulan terakhir anak-anak punya projek menanam biji sawi. Setiap pagi mereka sirami. Kalau tanamannya layu, mereka cabut dan tanam lagi yang baru. Ada anak yang sangat care dengan tananamannya, tapi tetap saja tanamannya tidak bertumbuh subur. Sebaliknya ada anak yang agak cuek dengan tanamannya, tapi ternyata tanamannya justru bertumbuh subur. Di sini aku merasakan bahwa bukan apa yang anak-anak kerjakan yang memberi pertumbuhan bagi setiap tanaman, melainkan Tuhan pencipta bumi dan segala isinya yang memberikan pertumbuhan.

Ketika aku melihat anak-anak di kelasku, aku merasa mereka itu mirip dengan biji sawi yang mereka tanam sendiri. Beberapa dari mereka sangat aku perhatikan supaya bisa bertumbuh dengan baik, tapi di akhir tahun ajaran ini aku tidak melihat perubahan yang signifikan. Sebaliknya beberapa dari mereka kelihatannya biasa-biasa saja, tetapi justru sudah mengalami perubahan yang cukup signifikan selama belajar di kelasku.

Jadi memang benar kata Rasul Paulus, "Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan." (1 Korintus 3:6)

Seorang pendeta bisa berkhotbah dengan sangat karismatik dan memuridkan jemaatnya dengan sangat luar biasa, tetapi tanpa Tuhan yang memberikan pertumbuhan, tidak seorang pun akan bertumbuh semakin serupa Kristus. Seorang guru TK bisa mengajar dengan sangat kreatif, tapi tanpa Tuhan yang memberikan pertumbuhan, tidak seorang anak pun akan bertumbuh.

Namun aku bersyukur, sebab untuk seorang guru muda yang pengalamannya belum genap setahun, Tuhan memberikan berkat pertumbuhan untuk setiap anak di kelasku. Itu aku rasakan dan lihat ketika sibuk mengerjakan komentar naratif untuk report card mereka. Jadi, paling sedikit ada 19 pertumbuhan yang aku lihat. Bukan karena gurunya cerdas, tapi karena Tuhan yang menyertai dan memberkati anak-anak di kelasku. Di sini aku coba daftarkan 19 pertumbuhan yang sudah terjadi, satu pertumbuhan mewakili satu orang anak.
  1. Membaca lebih lancar dari sebelumnya.
  2. Dari yang tidak tahu bahasa Inggris sama sekali, sekarang sangat suka bicara dalam bahasa Inggris.
  3. Merespon hal-hal yang tidak disukai tanpa marah-marah.
  4. Bersikap manis dan taat sekalipun sedang ditegur, tidak lagi melawan guru maupun orang tuanya.
  5. Berani mengakui kesalahan dan minta maaf.
  6. Mau mendengarkan meskipun sudah tahu dan mengerti pelajaran yang disampaikan di kelas.
  7. Menjadi lebih percaya diri.
  8. Tidak takut berbuat salah dan memperbaiki kesalahan.
  9. Mau menerima masukan dari guru dan orang tua.
  10. Menghargai orang lain.
  11. Mengungkapkan perasaan tanpa mengedepankan tangisan.
  12. Menahan diri untuk menertawakan orang lain.
  13. Tahu waktunya untuk mendengarkan dan untuk berbicara.
  14. Antusias untuk belajar hal baru.
  15. Tidak takut menghadapi tantangan.
  16. Bisa berkata dengan tegas, bahwa ia membutuhkan orang tuanya, bukan kakek neneknya.
  17. Menanggung konsekuensi dengan berani.
  18. Mengerti bahwa ada tanggung jawab setelah kata "maaf".
  19. Menegur dengan lembut, bukan marah-marah.
Miss Novi and her students
Saat aku melihat satu per satu pertumbuhan mereka, aku merasa bersyukur. Satu tahun belajar bersama di kelas, mereka belajar sesuatu yang akan mereka bawa seumur hidup. Bukan karena gurunya hebat. Justru gurunya masih terlalu muda dan belum berpengalaman, seringkali juga tidak konsisten. Tuhanlah yang memberikan pertumbuhan.

Berjalan dengan Tuhan di dalam kelas membuatku melihat bahwa tugas seorang guru muda adalah bekerja segiat-giatnya untuk Tuhan dan menyaksikan pertumbuhan setiap anak pada akhir semester dan akhir tahun ajaran. Tidak ada yang lebih memuaskan bagi seorang guru muda selain melihat pertumbuhan setiap anak di kelasnya.

2 comments:

Jerry Trisya said...

Hi Nov. Very humbly reminding akan betapa misterius dan tidak bisa ditebaknya kehidupan ini. Apa yang orangtua bisa lakukan dalam hal membesarkan anak didalam Tuhan menurutmu Nov ?

Thanks for sharing your teaching life Nov.
JerryTrisya

Novi Kurniadi said...

Thank you, Ko Jerry :)
Pertanyaannya aku jawab di sini ya: http://novi-kurniadi.blogspot.com/2014/06/membesarkan-anak-di-dalam-tuhan.html

Post a Comment